Indonetwork.co.id (Hong Kong) – Kerja keras untuk meningkatkan kinerja ekspor dan menarik investasi terus dilakukan Indonesia. Dalam hal ini Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meresmikan Indonesia Chamber of Commerce (INACHAM) di Hong Kong.

Peresmian ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Joko Widodo ke Daerah Administrasi Khusus China ini pada bulan Mei 2017. Pembentukan INACHAM Hong Kong difasilitasi penuh oleh Konsulat Jenderal RI di Hong Kong dan Utusan Khusus Presiden RI untuk RRT dan Hong Kong Dato Sri A. Tahir, serta KADIN Indonesia.

Baca juga: Gelar Pra Konvensi, Kemendag Tingkatkan SDM Ekspor Impor

“Kita sedikit tertinggal dari negara lain untuk membentuk Kamar Dagang di Hong Kong. Minat pelaku usaha Hong Kong kini sangat besar untuk menjadikan Indonesia sebagai mitra bisnisnya,” pungkasnya.

“Untuk itulah, pembentukan INACHAM ini disambut dengan sangat antusias,” jelas Enggar.

Gelaran INACHAM dihadiri beberapa petinggi negara seperti Konsul Jenderal RI di Hong Kong Tri Tharyat, Utusan Khusus Presiden Dato Sri Tahir, Financial Secretary of Hong Kong SAR Paul Chan Mo-Po, Commissioner of the Ministry of Foreign Affairs of the People’s Republic of China in Hong Kong Xie Feng, Ketua KADIN Indonesia Rosan P. Roeslani, Chairman of the Chinese General Chamber of Commerce in Hong Kong Jonathan Choi, serta lebih dari 350 peserta dari dunia usaha yang umumnya berkedudukan di Hong Kong.

INACHAM dirintis sejak dua tahun lalu dan mendapatkan momentum saat kunjungan kerja Presiden Joko Widodo. Pembentukan INACHAM merupakan tanggapan cepat dari berbagai kalangan setelah ditandatanganinya Perjanjian Perdagangan Bebas dan Perjanjian Investasi antara ASEAN dan Hong Kong di sela-sela KTT ASEAN di Manila, Filipina pada pertengahan November 2017.

Pebisnis Hong Kong Bidik Pasar Indonesia
Pelaku usaha Hong Kong maupun pebisnis Indonesia yang sudah memiliki basis usahanya di Hong Kong kini semakin membidik Indonesia sebagai mitra dagang dan investasi jangka panjang.

Hal ini didorong oleh fakta bahwa Indonesia merupakan “critical mass” di ASEAN yang mulai memainkan kembali peran kepemimpinannya, sementara perekonomian China dan Jepang cenderung menghadapi moderasi pertumbuhan karena berbagai faktor.

Bila Indonesia memandang Hong Kong sebagai pintu untuk memasuki pasar China lebih dalam lagi dan menarik investasi lebih besar ke Indonesia, pelaku usaha Hong Kong memandang Indonesia sebagai “business hub” ke dan di kawasan ASEAN dan mitra Free Trade Agreement (FTA) ASEAN lainnya seperti Australia, India, Jepang, Korea Selatan, China, dan Selandia Baru.

Dedy Mulyadi