Indonetwork.co.id (Yogyakarta) – Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan enam deputi Bekraf menghadiri talkshow Bekraf pada Final Kompetisi dan Konferensi Food Startup Indonesia (FSI) di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

FSI merupakan salah satu program Deputi Akses Permodalan Bekraf untuk mempertemukan perusahaan rintisan (startup) bidang kuliner dengan investor dan meningkatkan kapasitas startup kuliner.

Baca juga: Bekraf Berikan Pendalaman Manajemen Keuangan Bagi Pelaku Usaha

Wakil Kepala Bekraf, Ricky Joseph Pesik, mengungkapkan, bisnis kuliner adalah peluang usaha yang menyumbang 40% di sektor ekonomi kreatif pada PDB nasional. Karenanya, Bekraf berupaya membangun ekosistem bisnis kuliner pada FSI menjadi ekosistem startup.

“Harapan kedepan, pebisnis dari finalis dan pemenang FSI tidak hanya bisnis individual, tapi akan membentuk ekosistem startup bisnis kuliner, memiliki jaringan yang luas dan bisa melakukan ekspansi ke pasar global,” ucap Ricky.

Dalam kesempatan itu, Arofah Nur Indriani, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Daerah Istimewa Yogyakarta  (DIY) mewakili Gubernur DIY juga hadir.

Menurutnya, Pemerintah DIY menyambut baik final FSI di Yogyakarta. Perkembangan bisnis kuliner berkembang pesat karena berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia.

“FSI memacu anak muda untuk menciptakan ide baru. Kami berharap, tidak hanya bisa mendukung perkembangan ekosistem tapi juga mengembangkan startup subsektor kuliner. Terutama menghadapi pasar global,” ucap Arofah.

Sejumlah Deputi Paparkan Program
Selain Deputi Akses Permodalan Bekraf. Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf, Abdur Rohim Boy Berawi juga menjelaskan program Bekraf lainnya pada sub sektor kuliner.

Menurutnya, fungsi utama kedeputiannya antara lain menyelenggarakan riset untuk kebijakan, pelatihan, serta inkubasi meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku ekonomi kreatif (ekraf).

misalnya saja, Coding Mum, pelajaran coding computer untuk ibu rumah tangga dan Bisma, aplikasi yang disediakan khusus untuk pelaku ekraf untuk mengetahui informasi terkini kegiatan Bekraf sekaligus mendaftarkan diri bagi pelaku ekraf adalah contoh program kedeputian yang dipimpinnya.

Hal lain juga dijelaskan Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Santosa Sungkari, menambahkan startup sebagai troublemaker yang mengetahui apa yang dikerjakan untuk mendapatkan solusi permasalahan masyarakat. “Perbedaan food startup dengan pedagang pada umumnya terlihat dari bisnis modelnya. Repeatable dan scale up,” tegas Hari.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Pemasaran Bekraf, Joshua Puji Mulia Simandjuntak juga menjelaskan pemasaran dalam negeri dan luar negeri Bekraf.

Untuk memasarkan produk di pasar dalam negeri, Joshua mengingatkan agar fokus meningkatkan penjualan dan omzet produk-produk kuliner. Kalau luar negeri, fokus membawa brand.

Sedangkan Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo, menutup talkshow dengan menginformasikan katalog FSI 2017, memperkenalkan food startup ke kancah nasional maupun global. Ia juga menekankan pentingnya alumni asosiasi FSI untuk mempermudahkan pendukungan Bekraf kepada pelaku ekraf.

Dedy Mulyadi