Indonetwork.co.id (Jakarta) – Penutupan pameran HOSPITALITY Indonesia 2018 di JIEXPO Kemayoran Jakarta menarik perhatian. Pengunjung dan para eksibitor diberikan kesempatan untuk belajar membuat kerajinan Kokedama.

Workshop Kokedama, yang dalam bahasa Indonesia berarti “bola lumut” adalah hiasan taman dengan bentuk bola tanah yang ditutupi lumut dimana tanaman hias dapat tumbuh. Ide yang berasal dari Jepang.

Pada pagelaran HOSPITALITY Indonesia 2018 kali ini, terdapat workshop yang memungkinkan para pengunjung maupun eksibitor belajar untuk membuat Kokedama. Workshop tersebut dipandu oleh Emillie Garden dan bertempat di IDEA Space, Hall C1.

“Dengan membuat Kokedama ini, kita bisa lebih menghemat pot-pot plastik, sehingga kita dapat mengurangi kegunaan plastik,” papar Nelsa Yesaya, selaku Owner Emillie Garden.

Menurutnya, Kokedama belum begitu familiar di Indonesia sehingga melalui acara workshop ini para pengunjung HOSPITALITY Indonesia 2018 dapat belajar mengenai teknik dasar dan mungkin menjadi inspirasi bisnis.

Furniture & Craft Indonesia
Kerajinan tangan dari para pengrajin tanah air juga dipamerkan melalui booth Furniture & Craft Indonesia di pameran HOSPITALITY Indonesia 2018 kali ini. CV Nuansa Kayu Bekas membawa produk-produknya yang berupa kursi, meja, hiasan kayu dan lain sebagainya. Perusahaan yang berbasis di Solo, Jawa Tengah ini fokus mendaur ulang kayu-kayu bekas menjadi karya seni yang bernilai tinggi.

“Sejak 2009 kami telah memperkenalkan produk-produk ekspor dari bahan baku bekas-pakai, yang berkualitas dan mempunyai value untuk konsumen, terutama di Eropa. Selama ini kami terus berusaha untuk mencari desain baru dan mengikuti keinginan pasar,” ujar Suwartini, Marketing CV Nuansa Kayu Bekas. Hingga saat ini, CV Nuansa Kayu Bekas telah mengirimkan produk-produknya ke luar negeri dalam jumlah 20 kontainer per bulan.

Pameran HOSPITALITY Indonesia 2018 juga menjadi ajang untuk mencari peluang calon buyers potensial dari manca negara. Seperti yang dilakukan oleh brand DOMASINDO yang membawa kerajinan oleh-oleh terbuat dari anyaman rotan, kursi, hiasan dan mebel yang bergaya casual dan minimalis.

Brand asal Desa Domas, Gresik, Jawa Timur ini memiliki produk-produk yang mencolok dibanding buatan peserta HOSPITALITY Indonesia 2018. “Produk kami terasa lebih berbeda karena warna-warni yang mencolok sekali, mungkin saja cocok untuk buyers dari luar negeri yang biasanya mencari produk unik,” papar Tri Laksono selaku pemilik dari DOMASINDO.

Tak hanya produk kerajinan, produsen mebel pun diharapkan bisa menjajaki kerja sama dengan brand lain di industri hospitality. Salah satunya Veda Sabrina, produsen furnitur dengan akar-akar jati yang memiliki warehouse di Jepara. Bahkan karya-karya Veda Sabrina sudah mencapai tanah Eropa.

“Jadi untuk ekspor, main buyers kita berasal dari Eropa utamanya Inggris, sebulan bisa mencapai 4-5 kontainer untuk Root Furniture. Di ajang ini kami berharap bisa menjajaki peluang masuk ke industri perhotelan di Indonesia,” tutur Erick, Manajer Produksi Veda Sabrina.

Menurut Erick, Tri Laksono, dan Suwartini, adanya HOSPITALITY Indonesia 2018 dapat membantu para perajin asal Indonesia. Selain menargetkan pasar lokal, para eksibitor juga mendapatkan kesempatan untuk memperluas networking dengan para buyer dari mancanegara.

“Selain konsepnya menarik, varian barang yang disuguhkan peserta beragam. Bagi kami, HOSPITALITY Indonesia 2018 pameran yang sangat bagus. Produk-produk yang di pamerkan cukup menarik dan tidak kalah dengan produk luar negeri,” pungkas Suwartini.

Dedy Mulyadi