Indonetwork.co.id (Pasay) – Indonesia berkomitmen mendukung target ASEAN dalam menggandakan perdagangan intra-ASEAN pada tahun 2025. Hal ini ditegaskan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita usai menghadiri pembukaan Pertemuan Para Menteri Ekonomi ASEAN (AEM) ke-49, Kamis (7/9) di kota Pasay, Filipina.

“Menggandakan perdagangan intra-ASEAN merupakan target ambisius. Hal tersebut bisa dicapai jika negara-negara ASEAN solid dan melaksanakan komitmen Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), melakukan kerja sama yang saling menguntungkan, memahami kondisi masing-masing negara,” ungkap Enggar.

Baca juga: Mendag Sejajarkan Merek Lokal Dengan Produk Asing di HBDI

Target peningkatan perdagangan ASEAN ini, lanjut Mendag, jangan hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar dari produk-produk luar. “Indonesia harus bisa menjadi tujuan investasi utama, bukan hanya sebagai pasar dari produk-produk luar,” tandasnya.

Pada 2016, pertumbuhan ekonomi regional ASEAN sebesar 4,8% dengan produk domestik bruto (PDB) sebesar USD2,55 triliun menjadikan ASEAN sebagai ekonomi terbesar ke-6 di dunia dan terbesar ke-3 di Asia.

Sedangkan total perdagangan ASEAN pada periode 2016-2017 tumbuh sebesar USD622 miliar meskipun pertumbuhan perdagangan global belum pulih. Total perdagangan ASEAN pada 2016 mencapai USD2,22 triliun, 23,1% berasal dari perdagangan intra-ASEAN.

Adapun total nilai investasi ASEAN mencapai USD96,72 miliar dimana sebesar 24,8% adalah investasi intra-ASEAN. Mitra dagang utama ASEAN adalah negara-negara anggota ASEAN sendiri yang mencakup 23%, diikuti RRT 16%, EU 10%, serta AS dan Jepang masingmasing 9%.

Total FDI yang masuk ke ASEAN pada tahun 2016 mencapai USD96,7 miliar. Dari jumlah tersebut 79,7% merupakan investasi di bidang jasa, sisanya di bidang manufaktur sebesar 8,3%, pertambangan 4%, dan hanya 1,9% di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sumber utama FDI ke ASEAN berasal negara-negara ASEAN diikuti Uni Eropa, Jepang, dan AS.

Ajak Malaysia Jaga Ekspor Minyak Kelapa Sawit
Sebelum menghadiri pembukaan AEM ke-49, Enggar melakukan pertemuan bilateral dengan Minister of International Trade and Industry Malaysia, Dato’ Sri Mustapa Mohamed. Dalam pertemuan itu, kedua negara sepakat menjaga ekspor kelapa sawit dari berbagai kampanye hitam.

“Indonesia dan Malaysia membahas langkah-langkah yang perlu dilakukan atas sikap Uni Eropa dan Amerika Serikat terhadap komoditas minyak kelapa sawit. Indonesia juga mengajak Malaysia mempromosikan biodiesel agar mempercepat realisasi program mandatori biodiesel B20,” jelas Enggar.

Indonesia, lanjutnya, juga telah menyampaikan surat keberatan kepada para menteri di negara-negara Uni Eropa, selain kepada menteri Uni Eropa itu sendiri.

Isu lain yang dibahas adalah mengenai perdagangan perbatasan yang dapat memperlancar perdagangan perbatasan kedua negara.

Dedy Mulyadi