Indonetwork.co.id (Serpong) – Indonesia dan Turki menggelar forum bilateral berupa Sidang Komisi Bersama atau SKB (Joint Commission on Economic and Technical Cooperation atau JEC) guna mengurangi hambatan dagang kedua negara.

SKB ini berlangsung pada 11-12 Oktober 2017, di sela-sela kegiatan Trade Expo Indonesia (TEI) di International Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Banten.

Dalam forum SKB, delegasi Indonesia dipimpin Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita sedangkan delegasi Turki dipimpin Wakil Perdana Menteri Turki Fikri Isik. “SKB ke-8 fokus membahas hubungan perdagangan dan kerangka kerja sama ekonomi dan teknis,” jelas Mendag.

Baca juga: TEI 2017 Kukuhkan Peran Indonesia Dalam Perdagangan Global

Menurut Mendag, selama kurun waktu lima tahun, kinerja perdagangan kedua negara dan realisasi investasi Turki di Indonesia tercatat terus mengalami penurunan. Untuk itu, SKB ke-8 sebagai kelanjutan Kunjungan Presiden RI ke Turki pada Juli lalu dapat dimanfaatkan secara optimal guna meningkatkan hubungan Indonesia-Turki.

“Hambatan dagang seperti kasus anti dumping harus dikurangi atau bahkan dihapuskan. Ini sebagai langkah konkret dalam meningkatkan perdagangan bilateral dan memaksimalkan potensi perdagangan kedua negara,” tegas Enggar.

Mendag berharap kerangka kerja sama ekonomi dan teknis dapat menjembatani permasalahan yang selama ini timbul. “Selain itu, Turki juga memiliki perjanjian customs union dengan Uni Eropa yang tentunya dapat dijadikan hub ke Uni Eropa yang memiliki standarnya relatif lebih tinggi,” imbuhnya.

SKB Membahas Berbagai Bidang
Hingga saat ini SKB telah berlangsung sebanyak tujuh kali. Pertemuan terakhir dilaksanakan pada 17-18 September 2008 di Ankara, Turki yang dipimpin Menteri Perdagangan RI dan Menteri Kehakiman Turki.

Pembahasan dalam SKB tersebut mencakup bidang ekonomi, perdagangan, investasi, energi, infrastruktur, pariwisata, serta berbagai bidang kerja sama lainnya.

Pada tahun 2016, Turki merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-23 dengan nilai USD 1,02 miliar dan negara asal impor nonmigas ke-34 bagi Indonesia dengan nilai USD 311,1 juta.

Nilai ini memberikan surplus bagi Indonesia sebesar USD 712,9 juta. Adapun total perdagangan Indonesia dengan Turki mencapai USD 1,33 miliar. Selama kurun waktu lima tahun terakhir, neraca perdagangan kedua negara menunjukkan surplus bagi Indonesia.

Produk ekspor utama Indonesia ke Turki adalah woven fabrics of synthetic filament yarn, yarn of synthetic staple fibre, natural rubber, synthetic filament yarn, dan yarn of artificial staple fibre.

Sedangkan produk impor utama Indonesia dari Turki adalah unmanufactured tobacco, petroleum oils and oils obtain from bituminous minerals, wheat or meslin flour, Borates, peroxoborates dan starches, inulin.

Sementara investasi Turki di Indonesia mencapai USD 2,7 juta dengan 61 proyek dan tercatat sebagai mitra investasi ke-43.

Dedy Mulyadi