Indonetwork.co.id (Surabaya) – Agar pelaku usaha dapat tumbuh dan berkembang menghadapi kondisi saat ini, Pemerintah diharapkan dapat peduli terhadap nasib pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Agar pelaku UMKM tidak kalah bersaing dalam pertarungan liberalisasi, dibutuhkan peranan penting pihak Pemerintah setempat.

“Pilihan kita, memberikan keseimbangan dalam pasar global, dengan membela yang kecil sehingga dapat berkembang dan memiliki daya beli,” ucap Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo.

Baca juga : Pelaku Bisnis Ajak UMKM Manfaatkan Strategi Marketing di Era Digital

Soekarwo menjelaskan, pada saat semua berpikiran usaha efisien adalah pemenang maka usaha yang kecil kalah, karena usaha kecil kurang efisien. Kondisi seperti saat ini disebabkan kegagalan dari prinsip efisiensi liberalisasi, yang menjadikan usaha kecil mati atau tidak dapat berkembang.

“Kalau ingin negara maju, jangan biarkan koperasi dan UMKM kalah dengan multinational company,” tegasnya.

Soekarwo melanjutkan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen terhadap pemihakan kepada koperasi dan UMKM. Dalam hal ini menggunakan APBD untuk rakyat dan fokus pada usaha mikro, kecil dan menengah, serta koperasi.

Dari penerapan tersebut, Pemprov Jatim membuahkan hasil pada koperasi dan UMKM. Koperasi dan UMKM di Jatim telah berkontribusi sebanyak Rp1.020 triliun atau kontribusi 54,98 persen pada PDRB Jatim.

Buat Program Non KUR
Hal serupa juga diungkapkan Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. Beliau mengatakan, pihaknya telah membuat program untuk koperasi dan umkm yang tidak terjaring oleh KUR.

Kepada penggiat koperasi dan UMKM tersebut kemenkop UKM bakal memberikan maksimal pinjaman sebesar Rp 10 juta.

Selain itu, Puspayoga juga telah melakukan pendataan terhadap koperasi yang ada di Indonesia. Dari data yang dimiliki, 76.000 unit koperasi tercatat dalam kondisi sehat.

Melihat hal ini, Puspayoga berpesan kepada jajaran instansi yang menangani koperasi dan UMKM untuk membina koperasi yang sakit dan tidak membuat banyak koperasi.

“Lebih baik membina koperasi yang sakit agar sehat kembali. Ke depan tidak ada lagi koperasi yang sehat dan sakit. Kalau tidak bisa dibina, maka dibubarkan,” harapnya.

Menurut Puspayoga, yang terpenting koperasi semakin hari jumlahnya makin banyak anggota, dan makin berkualitas. Sehingga bisa menyumbangkan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Khusus di wilayah Tulungagung, Jawa Timur, saat ini sedikitnya terdapat sebanyak 961 unit koperasi, di dalamnya 71 unit terdiri dari koperasi wanita, 105 unit koperasi wanita syariah. Total Aset koperasi wanita mencapai Rp 24,5 miliar.

Dedy Mulyadi