Siapakah Tim Ferris? Ia (jika Anda tidak akrab dengan karyanya) adalah penulis terlaris versi New York Times dan Wall Street Journal. Ia juga di kenal sebagai Angel Investor bagi perusahaan-perusahaan teknologi seperti Facebook, Twitter, Uber dan Evernote.

Ferris juga memiliki saluran blogging/ podcasting dengan lebih dari 1 juta pengunjung/ pendengar setiap bulannya. Tidak hanya itu, ia juga adalah pemegang Guinness World Record Amerika pertama untuk kategori Tango.

Baca juga: Kunci sukses pengembangan diri menurut pendiri startup miliaran dolar

Ia adalah seorang alumni Princeton, salah satu Universitas (selain Harvard dan Yale) yang tergabung dalam kelompok kampus paling terkemuka di dunia, Ivy League.

Desain Gaya Hidup

Di luar sekelumit prestasi tadi, Tim Ferris juga seorang pengarang terkemuka dalam soal Desain Gaya Hidup.

Apa itu Desain Gaya Hidup? Yaitu suatu kategori yang sama sekali baru dari yang telah ada sebelumnya, berkembang pesat dari blog, bisnis dan buku yang di fokuskan untuk menantang definisi lama yang telah menjadi pemahaman umum tentang menjalani kehidupan yang kaya.

Dalam buku pertamanya, “The 4-Hour Workweek”, Ferriss membuat pertanyaan:

Kalau bisa sekarang, mengapa harus menunggu sampai Anda sudah bekerja lebih dari 40 tahun dan berusia 65 tahun untuk mulai berkeliling dunia, menghabiskan waktu yang berkualitas dengan teman dan keluarga, dan mempelajari hobi yang baru? Mengapa tidak menikmati setiap momen sepenuhnya dari sekarang?

Ferris memiliki misi untuk mengubah rencana pensiun khas warga Amerika secara terbalik.

Daripada menunda semua kebahagiaan di masa depan (65 tahun keatas), Ferris menawarkan banyak kasus simpel untuk menyederhanakan kehidupan, membangun bisnis sendiri, menemukan hal-hal yang menyenangkan, melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia, dan merasakan gairah hidup.

Setiap momen tahun baru, kita mulai menetapkan resolusi dan memfokuskan pikiran untuk tujuan selama satu tahun ke depan. Namun, tampaknya Anda harus meninjau tujuan itu kembali.

Dengan menerapkan filosofi Ferriss di buku The 4-Hour Workweek-nya, Anda pasti akan merasakan daya dorong luar biasa yang akan meningkatkan diri ke level kesuksesan yang lebih tinggi.

Jadi mari kita menyelam dan mulai merancang kehidupan yang kita inginkan hari ini, dengan menggunakan beberapa prinsip kerja empat jam ala Tim Ferriss berikut ini:

1. Prinsip 80:20

Prinsip ini di kenal sebagai Hukum Pareto. Aturan di atas mengatakan bahwa 80 persen dari hasil yang di dapat selama melakukan aktivitas tertentu, hanya di hasilkan masukan sebesar 20 persen.

Aturan ini adalah dasar bagi mayoritas prinsip fundamental Ferriss. Satu contoh Hukum Pareto yang di kenal dalam dunia bisnis adalah 80 persen dari pendapatan usaha biasanya hanya datang dari 20 persen basis klien atau pelanggan.

Ferriss berpendapat bahwa Anda harus menghilangkan 80 persen hal-hal non signifikan dari pekerjaan yang di lakukan. Dan sebaliknya, fokus pada 20 persen kegiatan yang memiliki hasil signifikan.

Pada saat gilirannya tiba, Anda akan punya banyak waktu luang untuk memfokuskan diri demi menggandakan tindakan, klien dan proses yang menghasilkan keuntungan tinggi tadi.

Aturan ini juga berlaku dalam cara yang berlawanan. Biasanya, Anda akan menyadari bahwa 80 persen masalah bisnis atau kehidupan bersumber dari 20 persen orang-orang atau klien yang berinteraksi . Hilangkan 20 persen tersebut, maka sebagian besar masalah akan menghilang.

Namun, prinsip 80:20 bukanlah hal yang baku. Hukum Pareto hanya berfungsi sebagai titik awal untuk analisis Anda. Kadang-kadang Anda akan menemukan rasio yang bisa saja lebih tinggi, seperti 90:10 atau bahkan 99:1.

Apapun masalahnya, fokuskan energi Anda dan berhentilah membuang waktu sia-sia untuk mengerjakan hal yang tidak menghasilkan apapun.

2. Jangan remehkan kualitas waktu luang dan mobilitas terhadap kebahagiaan Anda

Banyak orang (terutama para wirausahawan) suka berpikir bahwa uang adalah kunci kebahagiaan yang paling utama. Bahkan, meskipun kebanyakan sudah paham bahwa uang bukanlah satu-satunya jaminan kebahagiaan, mereka masih memiliki kecenderungan untuk menjadikan penghasilan tinggi sebagai target terbesar dalam hidup.

Pola pikir demikian di satu sisi, sangat bagus dan bermanfaat. Hanya, jika di lakukan dengan benar. Tapi bagi kebanyakan orang cenderung bersikap asal dalam menentukan target pendapatan yang lebih tinggi.

Seharusnya, kita memilih target penghasilan yang memungkinkan kita untuk bebas melakukan hal-hal yang di inginkan.

Berikut adalah sebuah contoh: Katakanlah Anda menjalankan bisnis suvenir online yang rutin menghasilkan keuntungan 150 juta rupiah per tahun. Di tingkat itu, kita asumsikan Anda sebagai pemilik menghabiskan 30 jam per minggu untuk mengatur bisnis tersebut, dan punya waktu libur 3 kali selama 2 minggu per tahunnya. Bisnis tetap berjalan secara otomatis.

Kemudian, Anda merasa bahwa keuntungan tersebut masih bisa di tingkatkan hingga 350 juta rupiah. Sekarang, alih-alih bekerja 30 jam per minggu, Anda sebagai pemilik akan menghabiskan 80 jam per minggu pada bisnis tersebut untuk lebih banyak mencari klien baru, berurusan dengan pelanggan, dan memproses pesanan. Andapun tidak punya waktu lagi untuk liburan.

Manakah yang akan di pilih? Jika benar-benar jeli, maka situasi kedua (yang menghasilkan keuntungan 350 juta rupiah) akan membuat si pengusaha lebih miskin dalam hal waktu dan mobilitas ketimbang situasi pertama.

Apakah ini berarti bahwa Anda tidak boleh menjadi ambisius dan meningkatkan tujuan? Sama sekali tidak! Tapi apa yang harus selalu di pertimbangkan adalah mengapa ingin mencapai tujuan tersebut.

Jika pendapatan Anda akan menciptakan gaya hidup tertentu, pastinya hal ini  tidak menjadi masalah, tetapi jika untuk mencapai tingkat pendapatan seperti itu membuat Anda tak punya waktu luang, untuk apa?

Ingat, pengendalian waktu dan keseimbangan hidup sangat penting untuk kebahagiaan jangka panjang Anda.

3. Berusaha keluar dari zona nyaman

Hampir di setiap akhir bab dalam buku prinsip kerja empat jam ala Tim Ferriss, ia menawarkan daftar hal yang harus di lakukan untuk keluar dari zona nyaman.

Tantangannya mulai dari berjalan di kerumunan orang dan meminta nomor ponsel orang yang tidak di kenal, hingga menguji keterampilan bernegosiasi harga di pasar loak.

Mengapa Ferriss menyebar daftar tersebut ke seluruh bab buku? Dia berkata:

“Sukses dapat di ukur dari jumlah percakapan tidak nyaman yang Anda bersedia lakukan.”

Pada dasarnya, Tim Ferriss menyuruh Anda untuk keluar dari zona nyaman dan terus mendorong diri sendiri. Prinsip ini pulalah yang membuat Ferris mengalami penolakan dari 26 penerbit, sebelum akhirnya bukunya berhasil meluncur sebagai Best Seller di NY Times.

Ia berpesan agar para pengusaha mau keluar dari zona nyaman dan bersosialisasi dengan orang asing supaya dapat secara efektif hadir dan menjual gagasannya.

Tetapi yang lebih penting lagi, kunci untuk kehidupan yang berkualitas adalah dengan menjalin hubungan yang sehat dengan orang-orang dan membina persahabatan yang erat.

Untuk mencapai hal tersebut, Anda harus paham bagaimana cara untuk berbicara dengan orang yang belum Anda kenal, secara persuasif dan penuh keyakinan.