Kalangan pemasar boleh-boleh saja meluapkan kekesalannya atas sikap generasi millennial yang tidak setia terhadap suatu merek dan produk. Namun, hal tersebut tidak akan mengubah keadaan.

Biar bagaimana pun generasi milenial akan terus mendominasi pasar, dan pemasar harus siap untuk beradaptasi secara drastis jika ingin menjangkau mereka.

Data terbaru menunjukkan bahwa konsumen berusia 18 hingga 34 tahun sejatinya ingin setia dalam menggunakan suatu produk atau perusahaan tertentu.

Survei terkini yang di lakukan oleh Facebook IQ terhadap 14.700 warga Amerika Serikat yang berusia dewasa mencatat beberapa poin menarik. Generasi millennial di anggap 1,75 kali lipat lebih loyal ketimbang generasi baby boomers (1940-1960an) dalam menggunakan suatu merek.

Baca juga: Cara mengendalikan reputasi perusahaan Anda di internet

Survei tersebut mengukur sentiment dan perilaku konsumen yang berkaitan dalam lima industri, yakni asuransi kendaraan, maskapai penerbangan, hotel, toko ritel dan restoran.

Respon cepat tanggap dari merk

Generasi millennial memiliki kebiasaan dan harapan yang berbeda di bandingkan dengan generasi orang tua mereka. Teknologi memungkinkan mereka untuk bergerak secara fleksibel ketika sedang bekerja. Pergerakan ini pulalah yang menghalangi banyak generasi tersebut untuk membeli asuransi kendaraan.

Generasi muda yang melek teknologi mengharapkan agar merek yang ingin mereka pakai dapat bereaksi secara tanggap atas permintaan mereka.

Inilah mengapa generasi millennial dengan seenaknya akan menutup pesanan jika maskapai dan hotel yang mereka pesan tidak segera menjawab (memiliki sistem yang lamban).

Soal makanan, generasi millennial juga mencari layanan dengan tingkat kebersihan dan kesehatan yang terjamin. Generasi ini menghargai tingkat higienis 2,5 lipat lebih tinggi ketimbang generasi baby boomers. Mereka juga dua kali lipat lebih khawatir akan kurangnya menu sehat yang di tawarkan oleh sebuah restoran.

Kondisi keuangan generasi millenial

Aspek lain yang tidak kalah pentingnya dalam menentukan alasan generasi ini tidak setia terhadap suatu merek adalah kondisi keuangan mereka sendiri:

Facebook IQ menemukan bahwa responden survei yang memiliki pendapatan tahunan di atas $150.000, 32 persen akan lebih loyal ketimbang responden yang memiliki pendapatan tahunan di bawah $35.000.

Menurut survei tersebut, generasi millennial yang lahir antara tahun 1982 hingga 1998, belum  memiliki banyak waktu untuk mengembangkan karir dan mendapatkan gaji besar.

Hal ini sangat terasa bagi generasi yang lahir di tahun 1990-an. Uang adalah alasan utama di balik ketidakloyalan yang di tunjukkan oleh generasi tersebut. Inilah mengapa banyak perusahaan kini mendirikan lini merek baru yang khusus menargetkan generasi ini dengan menawarkan produk dengan harga-harga yang lebih murah dan transparan.

Indikator lain yang belum sepenuhnya masuk dalam demografi generasi millennial adalah orangtua. Survei tersebut menunjukkan bahwa orangtua baru akan cenderung lebih loyal terhadap suatu merek ketimbang mereka yang belum berkeluarga.

42 persen pasangan orangtua dengan satu orang anak menganggap diri mereka sebagai konsumen yang loyal, ketimbang 36 persen mereka yang masih lajang.

Mungkin kelak ketika berkeluarga, generasi millennial akan membuang eksperimen merek yang biasa mereka lakoni ketika masih bebas atau me lajang, dan memilih untuk setia terhadap suatu merek restoran, hotel, tempat belanja kebutuhan pokok serta perusahaan lainnya. Asalkan, perusahaan yang di maksud mampu memenuhi kebutuhan anak-anak mereka.

Ingatan positif terhadap merek

Kendati harga dan status orang tua memainkan peran penting dalam perilaku pembelian, namun pada akhirnya yang paling menentukan mengapa generasi ini tidak setia terhadap suatu merek adalah

Ingatan positif yang mereka asosiasikan terhadap merek yang bersangkutan.

Ketika Facebook IQ meminta para responden dari berbagai latar ekonomi untuk menjelaskan soal merek yang paling mereka senangi, para responden lebih terfokus pada pengalaman ketimbang konsistensi, harga dan kualitas.

Indikator semacam “menyenangkan, keren, enak, bersih, inovatif, variatif, ramah dan  terlayani” adalah kata-kata yang sifatnya berkaitan dengan pengalaman konsumen.