Indonetwork.co.id (Wellington) – Memperingati 60 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Selandia Baru, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengikuti forum MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia).

Triawan Munaf juga berkesempatan menjadi narasumber dalam seminar bertajuk “Indonesia – New Zealand 60 years on – Opportunities in the Digital Age,” di Wellington, Selandia Baru.

Sejak didirikan tahun 2013, MIKTA telah menjadi forum konsultasi informal multilateral, sekaligus kolaborasi antar regional yang cukup unik, karena semua anggotanya adalah negara-negara anggota G20.

Baca juga: Gandeng Denmark, Bekraf Buka Peluang Usaha Ekonomi Kreatif Indonesia

“Forum ini harus menjadi peluang bagi Indonesia untuk saling belajar dan tumbuh bersama. Kami berkontribusi USD5,66 triliun untuk ekonomi internasional, meskipun secara ekonomi, sosio-budaya, dan politis sangat beragam,” kata Triawan.

Selama Indonesia menjadi koordinator di MIKTA perhatian terhadap ekonomi kreatif adalah yang utama dengan mengangkat tagline “Fostering Creative Economy and Contributing to Global Peace“.

“Kami percaya bahwa, ekonomi kreatif adalah konsep yang tidak terbatas, memotong hambatan geografis, memanfaatkan kemajuan teknologi, mempromosikan kesetaraan dan menghilangkan diskriminasi, dan tidak fokus pada ukuran modal untuk melakukan bisnis,” lanjut Triawan.

Baca juga: Bekraf Gandeng Tempo Kembangkan 16 Subsektor Ekonomi Kreatif

Menurutnya, memasuki Revolusi Industri 4.0, teknologi otomatisasi dan interoperabilitas sekarang sudah dekat, peran kreativitas manusia dan modal manusia untuk kegiatan ekonomi menjadi sangat diperlukan.

Ekonomi kreatif menawarkan pendekatan kontemporer terhadap tantangan klasik ketimpangan pendapatan dan pengangguran. Sementara model bisnis lama berkonsentrasi pada kepemilikan modal dan mekanisme yang kaku, model ekonomi kreatif memungkinkan fleksibilitas modal dan pemanfaatan teknologi universal dan berkonsentrasi pada modal kreatif manusia.

Dalam forum ini Triawan juga menjelaskan bahwa, sejak dibentuk oleh  Presiden Joko Widodo pada tahun 2015, Bekraf memiliki visi besar untuk menjadikan ekonomi kreatif tulang punggung moda perekonomian Indonesia di masa depan dan mengembangkan 16 sub-sektor ekonomi, terutama tiga sub-sektor utama (kuliner, fashion, dan kerajinan) yang menyumbang 77,6% ekonomi kreatif Indonesia, dan tiga sub-sektor prioritas (film, animasi, dan video, aplikasi dan game, dan musik).

Baca juga: Bekraf Gandeng Sejumlah Asosiasi Perkuat Wadah Ekosistem Ekraf

Pada tahun 2016 ekonomi kreatif Indonesia telah memberikan kontribusi sebesar Rp. 922,59 triliun (atau US $ 66,61 Miliar), yang menyumbang 7,44% dari PDB Indonesia.

“Ini adalah pencapaian yang sangat menjanjikan. Kontribusi ekonomi kreatif kami terhadap PDB saat ini adalah yang terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan,” jelas Triawan.

Dedy Mulyadi