Indonetwork.co.id (Purwokerto)Pelaku usaha satu ini punya visi yang layak diacungi jempol. Lewat kegigihannya, produk olahan petani gula dikotanya itu mampu menembus pasar dunia.

Sebut saja Nartam Andrea Nusa, pria satu ini sukses merintis Nira Satria, koperasi satu-satunya di Kabupaten Banyumas yang memasarkan olahan gula kelapa menjadi kristal organik atau biasa dikenal dengan gula semut.

Baca juga: Kurangnya Keberpihakan Produk Lokal, Kendala Kewirausahaan Mandiri

“Di kota Purwokerto, saya bersama rekan-rekan mengelola koperasi serba usaha. Bergerak sebagai pemasaran gula kelapa,” ucap Nartam pegiat dan pendamping petani gula kelapa organik yang juga Ketua Koperasi Nira Satria.

Sejak tahun 2008, dirinya mulai merintis koperasi tersebut. Selain mengedukasi masyarakat untuk memproduksi gula yang sehat yaitu berbahan organik, Nartam juga membantu soal pemasarannya.

“Saya tergerak untuk membangun koperasi ini, karena saya melihat tidak ada jaminan sosial bagi petani gula kelapa. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mendirikan koperasi,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam seminar di Festival Panen Raya Nusantara (PARARA).

“Hal yang paling bikin geleng kepala, karena harga jual gula di sini tidak stabil. Dengan demikian, kami memutuskan untuk mengekspor gula tersebut ke luar negeri,” pungkas Nartam.

Menurutnya, produk olahan tersebut merupakan pengembangan inovasi yang bisa diterima dengan baik dipasar eropa. “Jika pada awalnya gula ini dicetak menjadi padat, kami kembangkan menjadi kristal atau gula semut,” imbuhnya.

“Saat ini, kami mempunyai anggota sebanyak 1.072 yang tersebar di 12 desa. Kami optimis, karena produk olahan ini memiliki potensi pasar sangat besar. Hingga kini, kapasitas produksi perbulannya mencapai 60-70 ton,” ujar Nartam bangga.

Mengantongi Sertifikat Internasional
Hebatnya lagi, produk gula tersebut telah mendapatkan sertifikasi organik sebagai penghasil gula kelapa terbesar di Indonesia dari lembaga internasional pada tahun 2009.

“Sertifikasi yang kami miliki berstandar Eropa, Amerika dan Swiss. Dari kapasitas produksi itu, 90% di ekspor ke luar negeri. Agar terjaga, dilengkapi juga standar pengamanan pangannya,” kupasnya.

Lebih lanjut Nartam mengatakan, petani gula kelapa telah meninggalkan campuran bahan kimia dan mulai beralih menggunakan bahan organik.

Ia mengungkapkan, para petani mulai sadar dengan dampak buruk penggunaan bahan kimia untuk campuran gula. Menurutnya, gula organik banyak diminati orang-orang Eropa dan Amerika.

“Gula organik ini cukup laku di pasaran Asia, Amerika dan Eropa karena tidak membahayakan kesehatan,” katanya.

Dedy Mulyadi