Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memproyeksi ekonomi Indonesia minus sekitar 3 persen pada kuartal III 2020. Ini berarti Indonesia berpotensi masuk ke jurang resesi pada periode tersebut.

“Kuartal III 2020 mungkin minus 3 persen lebih sedikit,” ucap Jokowi dalam pembukaan rapat terbatas (ratas), Senin (2/11).

Ada beberapa indikator ekonomi yang membuat ekonomi kembali diproyeksi minus pada kuartal III 2020. Pertama, konsumsi rumah tangga.

Diketahui, konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi. Indikator itu menyumbang lebih dari 50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Tapi, Jokowi dalam Sidang Kabinet Paripurna awal pekan ini menyatakan konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2020 masih akan minus sekitar 4 persen. Artinya, permintaan masyarakat masih rendah pada kuartal tersebut.

Sementara kedua, investasi. Ia memperkirakan investasi masih tertekan hebat oleh virus corona pada periode Juli-September 2020. Tak tanggung-tanggung, investasi ia perkirakan anjlok hingga minus hampir 6 persen.

“Jadi investasi kuartal III 2020 masih minus di atas 5 persen, tapi nanti tunggu dari Badan Pusat Statistik (BPS), kurang lebih 6 persen,” kata Jokowi.

Jokowi mengatakan sebenarnya sudah mewanti-wanti Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi sejak awal kuartal III 2020 agar investasi tak kembali minus lebih dari 5 persen. Namun, upayanya sia-sia sehingga kedua komponen itu sulit digenjot .

“Belum bisa dikejar, oleh sebab itu dikejar pada kuartal IV 2020,” imbuh Jokowi.

Sementara, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 minus 5,32 persen. Saat itu, konsumsi rumah tangga terkontraksi hingga 5,51 persen.

Selain itu, investasi tercatat minus 8,61 persen. Kemudian, konsumsi pemerintah minus 6,9 persen, konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) minus 7,76 persen, ekspor minus 11,66 persen, dan impor minus 16,96 persen.