Jakarta – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Sunarso menyebut permintaan menjadi kunci yang menentukan penyaluran pertumbuhan kredit perbankan.

Hal itu terbukti dari angka penyaluran kredit yang tumbuh -2,4 persen sepanjang 2020, meski pemerintah telah menggelontorkan berbagai stimulus dan likuiditas ke perbankan.

“Secara nasional minus 2,4 persen, padahal segala macam stimulus sudah diberikan, likuiditas diberikan. Likuiditas ternyata tidak tersalurkan secara baik. Artinya, ternyata kuncinya di permintaan,” imbuhnya dalam webinar Kebangkitan UMKM untuk Mendorong Perekonomian Nasional, Senin (18/1).

Penyaluran kredit melalui Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) atau bank BUMN, jelas Sunarso, hanya mampu tumbuh 0,63 persen sepanjang tahun lalu.

“Sementara,pertumbuhan kredit tertinggi berada di Bank Pembangunan Daerah (BPD)5,22 persen, dan bank syariah sebesar 9,5 persen,” katanya.

Sunarso melanjutkan berdasarkan kajian yang dilakukan BRI menggunakan model ekonometrika, ada dua hal yang paling berpengaruh dalam pertumbuhan kredit, yakni konsumsi rumah tangga dan daya beli.

Setelah itu, baru lah ada faktor lainnya seperti suku bunga (interest rate), non performing loan (NPL) dan penjual eceran atau retail salsa.

“Artinya,likuiditas memang dibutuhkan, tapi kalau demand-nya tidak ada, lihat, kredit tidak tumbuh,” jelasnya.

Terkontraksinya penyaluran kredit juga tak lepas dari pandemi covid-19 yang mengakibatkan banyak aktivitas usaha terhenti.Halitu terlihat dari, besarnya realisasi restrukturisasi kredit perbankan sepanjang 2020, yakni Rp971 triliun.

Berdasarkan catatan OJK, restrukturisasi diberikan kepada 7,6 juta debitur atau sekitar 18 persen dari total kredit perbankan.

Jumlah tersebut berasal dari restrukturisasi kredit sektor UMKM sebesar Rp386,6 triliun dengan jumlah 5,8 juta debitur, dan non-UMKM, realisasi sebesar Rp584,4 triliun dengan 1,8 juta debitur.
Sumber : CNN