Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen di kuartal II 2020 secara tahunan (year on year).

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Gita Wirjawan, mengatakan pertumbuhan ekonomi negatif terbilang cukup berbahaya bagi dunia usaha untuk kedepannya.

“Kalo begini-begini saja bisa cukup bahaya,” kata Gita kepada Liputan6.com, Kamis (6/8/2020).

Menurutnya, mengingat daya beli di masyarakat cukup besar penurunannya, dimulai saat pandemi covid-19 diumumkan bulan Maret hingga memasuki masa new normal masih belum naik secara signifikan.

“Mengingat daya beli sudah cukup besar penurunannya,” ujarnya.

Percepat Penyaluran Bansos

Gita Wirjawan mengaku mundur dari pemilihan Ketua Umum PBSI, Senin (31/10/2016), untuk menjaga persaudaraan sekaligus memberi kesempatan pada Wiranto. (Bola.com/Fahrizal Arnas)

Oleh karena itu, Mantan Menteri Perdagangan ini menyarankan agar bantuan sosial (Bansos), bantuan untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus lebih dipercepat, agar bisa menopang daya beli yang sangat penting untuk pertumbuhan perekonomian ke depan.

Sekaligus ia mengusulkan agar, “Daya produksi di seluruh lini baik UMKM, korporasi BUMN, dan korporasi non-BUMN juga harus dibantu segera sebelum mereka terlalu loyo,” ujarnya.

Demikian, realisasi program pemulihan ekonomi nasional (PEN) untuk UMKM dengan total Rp123,47 triliun, baru terealisasi Rp 30,21 triliun, per Rabu (5/8/2020).

Sumber berita : Liputan6.com

Terparah Sejak Krisis 1998

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 negatif -5,32 persen secara year on year (yoy). Pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi yang terendah sejak triwulan I-1999 yang pada saat itu mencapai -6,13 persen.

“Kalau kita lacak pertumbuhan ekonomi secara kuartalan, kontraksi 5,32 persen ini adalah terendah sejak kuartal I pada 1999. Jadi pada pada triwulan I 1999 pada waktu itu mengalami kontraksi sebesar 6,13 persen,” ujar Suhariyanto melalui konferensi pers secara daring, Jakarta, Rabu (5/8).

Suhariyanto mengatakan, pihaknya belum akan melakukan revisi data pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini. Hal tersebut nantinya akan dilakukan pada akhir tahun sebagaimana biasanya. “Nggak ada revisi pada kuartal  II. Kalau ada revisi biasanya dilakukan pada akhir tahun,” jelasnya.

Dia berharap pertumbuhan ekonomi pada kuartal III tahun ini akan membaik seiring dilakukannya pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota.

Namun, pertumbuhan ekonomi akan membaik apabila penanganan penyebaran pandemi Virus Corona dilakukan dengan optimal.

“Saya ajak semua membangun optimisme. Sejak adanya relaksasi PSBB di Juni sudah ada geliat dibandingkan apa yang terjadi di Mei meskipun belum normal. Jadi di kuartal III ini kita harus bergandeng tangan dan optimis sehingga ekonomi bergerak dan yang paling penting gerakan protokol kesehatan supaya Covid nya betul betul tidak menyebar kemana-mana,” tandasnya.

Sumber berita : Liputan6.com