Indonetwork.co.id (Jakarta) – Dalam proses perundingan kerjasama bilateral, Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA). Mendag berusaha membuka peluang peningkatan investasi antara Indonesia dengan Tunisia.

Dalam pertemuannya dengan Zied Ladhari, Mendag berharap agar PTA Indonesia-Tunisia dapat segera terealisasi. “Mungkin pada awalnya, hasil perdagangan berdasarkan hasil perundingan PTA itu masih kecil nilainya. Namun, Indonesia akan memulai itu di tengah ketidakpastian yang berkembang dalam perdagangan global,” kata Enggar.

Menurut Mendag, PTA dapat berfungsi sebagai katalis untuk mengembangkan bisnis, investasi, dan mengembangkan kerja sama atau kolaborasi untuk mendapatkan keuntungan dari pasar ketiga.

Selain itu, Mendag juga berharap agar kunjungan bisnis kedua negara dapat terus ditingkatkan dan dilakukan secara teratur di Tunisia dan di Indonesia. Indonesia dan Tunisia dapat saling mempromosikan perdagangan dan investasi masing-masing.

“Ini sangat relevan bagi kedua negara karena nilai total perdagangan kedua negara pada tahun 2017 hanya USD 88 juta. sedangkan investasi Indonesia di Tunisia bernilai sekitar USD 114 juta di sektor migas, sementara investasi Tunisia di Indonesia masih belum tercatat secara signifikan,” kata Mendag.

Dalam kesempatan tersebut, Mendag juga meminta agar Tunisia menghadiri Trade Expo Indonesia (TEI) ke-33 pada 24-28 Oktober 2018. “TEI merupakan salah satu pameran dagang terbesar di ASEAN. Tidak hanya barang, TEI juga akan memamerkan potensi Indonesia di sektor jasa dan investasi,” kata Mendag.

Perdagangan Indonesia-Tunisia
Pada tahun 2017, tercatat ekspor produk nonmigas Indonesia ke Tunisia sebesar USD 55,19 juta. Sedangkan impor produk nonmigas dari Tunisia pada tahun yang sama mencapai USD 32,77 juta. Untuk itu, Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan Tunisia sebesar USD 22,42 juta.

Produk ekspor utama Indonesia ke Tunisia antara lain minyak kelapa sawit dan turunannya (58,27%); minyak kelapa dan turunannya/kopra (5,3%); palm kernel (10,57%); benang filamen sitetis (2,42%); serat benang sintetis (2,75%); lysine (3,34%). Sedangkan impor Indonesia dari Tunisia antara lain kurma (59,47%); calcium hydrogenorthophosphate (5,63%); calcium phosphates (9,83%); electrical switches (7,17%); serta kulit domba (2,51%).

Dedy Mulyadi