Indonetwork.co.id (Jakarta) – Memasuki era teknologi industri generasi keempat (revolusi industri 4.0), sejumlah sektor membenahi diri menghadapi persaingan yang serba digital.

Menurut Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, terkait industri manufaktur yang gencar dilakukan, revolusi industri 4.0 ini bukan untuk menggantikan tenaga kerja, tetapi pergantian pekerjaan.

Baca juga: Kemenperin Kembangkan Sentra IKM di Lintau Buo Sumatera Barat

“Contohnya, yang terjadi di Tanah Air, pada era digital ini bermunculan jasa transportasi berbasis online seperti Go-Jek dan Grab. Selain itu, ditandai juga dengan tumbuhnya e-commerce dan lainnya, yang mampu menyerap lapangan pekerjaan,” ucapnya.

Lebih lanjut Airlangga mengatakan, revolusi industri 4.0 adalah tantangan dan peluang yang sangat baik bagi Indonesia. “Dengan Industri 4.0, sektor manufaktur kita akan menjadi lebih efisien, produktif dan dapat bersaing di dunia,” paparnya.

Apalagi kata Airlangga, Siemens AG akan meluncurkan sebuah platform digital terbaru bernama Siemens Industrial Edge. Platform ini befungsi untuk membantu perangkat automasi dengan cara menyediakan pemrosesan data di tingkat mesin serta teknologi analisis canggih dan kemampuan edge computing untuk industri manufaktur dengan aman.

Baca juga: Kemenperin Ajak Siemens Tingkatkan Investasi dan Vokasi

Terkait peningkatan investasi, Kemenperin mengajak Siemens terus menggandeng produsen komponen pembangkit listrik lokal agar menjadi mitra bisnisnya.

Siemens memiliki pabrik komponen pembangkit tenaga listrik, seperti turbin uap dan turbin gas di Cilegon, Banten. “Industri kita sudah ada yang mampu memproduksi komponen pembangkit listrik, seperti boiler,” ungkap Menperin.

Perkuat Kerjasama
Beberapa waktu lalu, PT Barata Indonesia (Persero) kembali memperkuat lini bisnisnya melalui kerja sama dengan Siemens Aktiengesellschaft untuk memproduksi turbin khusus industri gula. Kolaborasi ini tertuang dalam penandatanganan Strategic Alliance Agreement.

Rencananya, Siemens juga ingin berinvestasi untuk pengembangan lokomotif kereta api dengan teknologi AC/AC yang memiliki keunggulan mesin kuat, perawatan lebih sederhana, irit bahan bakar dan emisi gas buang yang rendah.

Baca juga: Sepanjang Kuartal Satu 2018, Industri Manufaktur Capai Rp62 Triliun

Kemenperin mencatat, sepanjang 2010-2015, nilai keseluruhan investasi Jerman di Indonesia mencapai USD552 juta dengan 547 proyek yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 38.382 orang.

Sedangkan, pada 2017, nilai investasi Jerman di Indonesia untuk sektor manufaktur sebesar USD79,3 juta dengan total 108 proyek, naik dibanding capaian investasi tahun sebelumnya sebesar USD58,5 juta dengan 59 proyek. Proyek investasi Jerman tersebut didominasi oleh sektor industri baja dan mesin, kimia dan farmasi, serta otomotif.

Dedy Mulyadi