Indonetwork.co.id (Tokyo) – Delegasi Indonesia memperjuangkan perluasan akses pasar produk potensial Indonesia di Jepang, khususnya sektor perikanan, kehutanan, pertanian, dan industri.

Ini dilakukan saat pertemuan Delegasi Indonesia dan Jepang dalam kerangka General Review Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) di Tokyo, pada 19-20 September 2017.

Baca juga: Wujudkan Iklim Usaha Kondusif, Pemerintah Tetapkan STRANAS

“Fokus utama pertemuan ini membahas perluasan akses pasar produk potensial Indonesia di Jepang, khususnya sektor perikanan, kehutanan, pertanian, dan industri,” tegas Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan sekaligus ketua negosiator perundingan barang IJ-EPA Indonesia Ni Made Ayu Marthini.

Menurut Made, empat hingga lima tahun setelah implementasi, kedua negara sepakat kembali bernegosiasi untuk beberapa akses pasar Indonesia ke Jepang di sektor perikanan, kehutanan, pertanian, dan industri. Namun hingga tahun ini, pelaksanaan negosiasi tersebut tertunda sehingga momentum kali ini sangat penting untuk mengejar keterlambatan.

“Pertemuan di Tokyo ini merupakan kelanjutan dari pertemuan Komite Bersama di Bali bulan lalu dalam rangka penyelesaian General Review IJ EPA, atau sebuah perjanjian kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang yang telah disepakati satu dekade lalu,” kata Made.

Terdapat empat pertemuan sub komite yang dibahas, termasuk bidang perdagangan barang, jasa, dan tenaga kerja (movement of natural persons/MNP).

“Indonesia memperjuangkan agar tenaga kerja Indonesia dapat melakukan program magang di Jepang di berbagai sektor yang nantinya dibutuhkan Indonesia untuk mengembangkan industri di dalam negeri. Esensi dari perundingan dengan Jepang adalah mendapatkan keuntungan kedua pihak,” kata Direktur Perluasan Pasar Kerja Kemenaker selaku Ketua Sub Komite MNP Roostiawati.

Lakukan Pendekatan Baru
Di bidang tersebut dibahas pula potensi bentuk kerja sama yang dibangun kedua negara agar implementasi IJEPA dapat dimanfaatkan dengan maksimal oleh Indonesia.

“Kedua delegasi menunjukkan pendekatan baru yang pragmatis, jauh ke depan dan solutif mencari persamaan daripada membahas perbedaan. Kedua delegasi bertekad menyelesaikan General Review pada tahun 2017,” lanjut Made.

Pertemuan Sub Komite Perdagangan ini merupakan momen yang sangat penting untuk meningkatkan kinerja perdagangan kedua negara.

Meskipun neraca perdagangan selalu surplus bagi Indonesia (2012-2016), namun data menunjukkan bahwa total perdagangan antara Indonesia dan Jepang mengalami tren penurunan rata rata 15 persen per tahun, dari USD52,9 miliar di tahun 2012, USD40,1 miliar tahun 2014, dan USD29 miliar di 2016.

Pertemuan Sub Komite Bidang Perdagangan Barang berikutnya akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2017 di Indonesia.

“General Review IJEPA ini merupakan momentum yang baik untuk merundingkan kembali perluasan akses pasar kedua negara, serta peningkatan kerja sama ekonomi yang lebih luas,” ujar Made.

Dedy Mulyadi