Indonetwork.co.id (Washington DC) – Guna memperat hubungan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), kedua negara tersebut sepakat menyusun peta jalan untuk mewujudkan peningkatan perdagangan.

Hal tersebut dibahas secara langsung dalam pertemuan bilateral antara Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross, beberapa hari lalu di Kantor Kementerian Perdagangan AS, Washington DC, AS.

“Supaya semakin efektif, target peningkatan perdagangan RI dan AS harus dibarengi dengan sebuah peta jalan yang penyusunannya harus melibatkan pihak swasta kedua negara,” papar Enggar.

Baca juga: Indonesia Bangun Kemitraan Strategis Perdagangan Dengan Amerika

Bahkan kata beliau, pelaku usaha tekstil dan produk tekstil sepakat meningkatkan perdagangan. Adapun target yang diusulkan sebesar USD50 milliar.

Mendag Enggar dan Menteri Ross melihat pentingnya kedua negara untuk semakin meningkatkan hubungan bilateral dengan membangun kemitraan strategis di tengah dinamika perdagangan global saat ini.

Perlu diketahui bahwa, total nilai perdagangan Indonesia dengan AS mencapai USD25,9 miliar di tahun 2017. Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia mencapai USD17,79 miliar dan impor Indonesia sebesar USD8,12 miliar. Sehingga, neraca perdagangan Indonesia terhadap AS surplus USD9,67 miliar.

Buka Akses Pasar
Dalam kunjungannya ke Amerika, Enggar juga menghadiri pertemuan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan American Apprael & Footwear Association (AAFA) di Townsend House, Washington DC, AS. Dialog yang diutarakan membahas Akses Pasar Asosiasi Tekstil Indonesia-AS.

“Pemerintah Indonesia tidak hanya mendorong semangat tersebut, tapi juga berkomitmen menjadikan industri tekstil dan garmen sebagai salah satu prioritas ekspor,” kata Mendag Enggar.

Baca juga: Wow, Teh Hitam Indonesia Raih Penghargaan AVPA di Paris

Menurut Mendag Enggar, salah satu poin kerja sama di bidang tekstil dan produk tekstil yang dapat ditingkatkan adalah pembukaan akses pasar kedua negara. AS akan mengekspor kapas ke Indonesia sebagai bahan baku produk tekstil. Sebagai gantinya, Indonesia akan meningkatkan ekspor produk tekstil ke AS.

“Komoditas yang diekspor AS ke Indonesia adalah komoditas yang memang kita butuhkan. Amerika dapat mengekspor lebih banyak kapas ke Indonesia jika Indonesia dapat mengekspor lebih banyak produk garmen dan tekstil ke AS,” terangnya.

Meningkatnya ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia ke AS akan diimbangi dengan ekspor kapas AS ke Indonesia. “Ini adalah kemitraan yang saling menguntungkan. Secara tidak langsung, kinerja perdagangan akan menyeimbangkan diri,” tegas Enggar.

Dedy Mulyadi