Indonetwork.co.id (Bekasi) – Meski potensinya besar dan tersebar dibanyak tempat. Namun, sebagian besar Koperasi dan UKM yang bergerak industri komponen otomotif, masih menghadapi permasalahan seperti permodalan, kapasitas SDM, iklim usaha, akses pemasaran.

Di sisi lain, bisnis otomotif dan industri pendukungnya saat ini mengalami peningkatan cukup baik. Bahkan, prospek bisnis otomotif dimasa mendatang menjanjikan.

“Melihat kondisi saat ini, Koperasi dan UKM rencananya akan menggenjot kapasitasnya. Kami juga siap mendukung kemandirian industri otomotif nasional yang berdaya saing,” ungkap I Wayan Dipta, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran-Kemenkop dan UKM.

Baca juga: 10.000 Sepeda Buatan Indonesia Siap Diekspor ke Spanyol

Usai membuka “Temu Bisnis Perluasan Kerjasama Koperasi dan UKM dibidang Industri Komponen Otomotif.” Wayan mengatakan bahwa, untuk mewujudkan komitmen tersebut dibutuhkan strategi dan upaya yang terencana, terpadu lintas sektor, bertahap dan berkesinambungan.

Langkah ini menurutnya untuk peningkatan kapasitas dan wawasan Koperasi dan UKM bidang industri komponen otomotif. Karena itu, pihaknya menggelar temu bisnis Kemenkop dan UKM bekerjasama dengan Kantor PPN atau Bappenas, Departemen Perindustrian, Institut Otomotif Indonesia (IOI), Bakrie Autopart dan Toyota.

“Selain di Kab Bekasi dan Kab Karawang (Jabar), sentra Koperasi dan UKM di bidang komponen otomotif juga tersebar di Kabupaten Klaten dan Kab Tegal (Jawa Tengah), Kab Sukabumi (Jabar), Jogjakarta dan Kab Sidoarjo (Jatim),” papar Wayan.

Adapun koperasi dan UKM di bidang komponen otomotif yang aktif antara lain, Ikapeksi (Ikatan Pengusaha Kenshusei Indonesia), Kopik Pulogadung, Apek ( Asosiasi Pengusaha Enginering Karawang), Asosiasi UKM Pendukung Industri, Koperasi Industri Komponen Otomotif (KIKO) Jakarta, PIKKO (perkumpulan industri kecil menengah Komponen Indonesia) Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang.

“Dalam temu bisnis ini, kami dihadirkan pula CEO bidang otomotif dari APM (Agen Pemegang Merek) yang beroperasi di Indonesia, guna memberikan gambaran tentang anatomi bisnis komponen otomotif yang ketat dengan aspek kualitas,” urai Wayan.

“Dengan demikian, UKM tidak saja paham, juga bisa memberikan wawasan yang lebih utuh,” kata I Wayan Dipta.

Belum Terintegrasi
Presiden Institut Otomotif Indonesia (IOI) I Made Dana Tangkas menilai, perkembangan industri komponen di Indonesia tidak lepas dari pertumbuhan permintaan (demand) yang masih cukup tinggi, mengingat populasi kendaraan di dalam negeri yang cukup banyak.

“Indonesia kini menjadi pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara dengan penjualan 1,05 juta di 2016, mengalahkan Thailand yang 800 ribu dan Malaysia yang 600 ribu. Industri komponen kita termasuk didalamnya koperasi dan UKM, belum bisa optimal menggarap pasar yang besar itu antara lain karena belum adanya integrasi atau belum terpadunya antara sesama pelaku di bidang komponen otomotif ini, “ujarnya.

Made mengakui, 95% pasar industri otomotif dan turunannya masih didominasi Jepang, sisanya oleh Eropa, Korea dan AS. Namun, bukan berarti Koperasi dan UKM bidang komponen otomotif tidak bisa berperan.

“Mereka sudah mampu menghasilkan komponen tier 1 maupun tier 2, untuk memasok industri besar seperti Toyota dan Honda. Namun ke depan, mereka juga akan kami rangkul untuk mendukung industri otomotif di pedesaan. Sekarang, kami juga sedang merintis pembuatan angkutan pedesaan,” tambahnya.

Made menyarankan, sebaiknya sentra industri UKM berhimpun dalam satu wadah organisasi khususnya koperasi, sehingga UKM memiliki bargaining dengan skala yang lebih besar dibanding harus berjuang sendiri.

Dalam memuluskan kerjasama ini, I Wayan Dipta pun menjanjikan memberikan kemudahan dalam proses perijinan pendirian koperasi maupun sertifikat merek. “Kami siap membantu UKM bidang komponen otomotif yang akan membentuk koperasi, dan nantinya bisa diarahkan memasok bahan baku ke industri besar di otomotif,” ucapnya.

Direktur Bidang Pengembangan UKM dan Koperasi Kantor PPN Bappenas, Dading Gunadi menilai, keberadaan koperasi dalam satu sentra industri bukan hanya sekedar alat mengurai ketimpangan di pedesaan, namun juga akan memberikan dampak yang luar biasa terhadap bergeraknya roda perekonomian di daerah tersebut.

Sumber: Depkop.go.id