Indonetwork.co.id (Jakarta) – Menurut Presiden Joko Widodo, infrastruktur transportasi merupakan salah satu syarat mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 7% dalam 3 tahun ke depan. Karenanya, infrastruktur dan transportasi jadi sorotan penting dalam masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia.

Jokowi juga berkomitmen untuk membangun infrastruktur khususnya transportasi umum yang terintegrasi di darat, laut dan udara. Terutama pembangunan infrastruktur berbasis rel yang gencar dilakukan. Bahkan, industri kereta api di Indonesia telah ditetapkan sebagai sektor andalan masa depan.

Baca juga: Gandeng Pemkot Bogor, Indonetwork Gelar Digital Workshop

Jika dilihat dari progres, tahap pembangunannya telah berkembang hampir 50% dari 11 project yang dicanangkan. Saat ini proyek di Medan masuk di tahap uji coba, disusul oleh Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur serta proyek LRT Palembang yang telah rampung sekitar 77% (Desember lalu).

Progress pembangunan LRT DKI Jakarta koridor I fase A (Kelapa Gading- Velodrome) mencapai 53,71 persen, ditargetkan akan rampung pada akhir 2019 nanti.

Industri kereta api nasional terus memacu penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), seperti pada proyek pembuatan kereta ringan LRT Jabodebek yang ditargetkan bisa lebih dari 65 persen pada tahun 2019.

Menciptakan Lapangan Kerja
Upaya ini dilakukan melalui sinergi antara BUMN dengan pemangku kepentingan terkait seperti pihak swasta, industri penunjang, serta industri kecil dan menengah (IKM).

“Proyek ini diharapkan terjadi penciptaan lapangan kerja baru serta multiplier effect terhadap keterlibatan IKM (Industri Kecil Menengah),” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

“Pada tahun 2015-2019, kami fokus pada pengembangan kereta api perkotaan seperti Light Rail Transit (LRT), monorail, dan Mass Rapid Transport (MRT),” terangnya.

Baca juga: Dongkrak Industri Kereta Api, GEM Siap Gelar RailwayTech Indonesia 2018

“Sementara itu, periode 2020-2035 akan difokuskan pada pengembangan kereta listrik dan magnetic levitation (maglev),” ujar Airlangga.

Proyek LRT akan menjadi kesempatan bagi industri kereta api nasional untuk menunjukkan daya saingnya dalam penguasaan teknologi termasuk dalam hal riset dan inovasi pengembangan industri berbasis rel.

Untuk pengerjaan LRT yang menghubungan Jakarta – Bogor – Depok – Bekasi ini, PT INKA (Persero) sudah mendapat dukungan keuangan sebesar Rp4,050 Triliun dari 3 sindikasi perbankan yakni dari PT BNI (Persero) Tbk, PT SMI (Persero) dan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia.

Seperti diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, ada beberapa Negara dan investor asing seperti China dan Jepang yang telah berinvestasi untuk proyek pembangunan LRT Jakarta-Bandung dan Jakarta Surabaya. Selain itu, Korea Selatan, Singapura dan Amerika Serikat telah menunjukkan ketertarikannya dalam proyek LRT Jabodetabek dan BSD-Soekarno Hatta.

Untuk menarik investasi asing di bidang perkeretaapian, GEM Indonesia bekerjasama dengan MASKA (Masyarakat Perkeretaapian Indonesia) akan kembali menggelar pameran RailwayTech Indonesia 2018 dengan skala dua kali lipat lebih besar dari tahun sebelumnya.

Di tahun 2017 lalu, RailwayTech Indonesia telah diikuti oleh perusahaan besar dari mancanegara: SKF, Leoni, Tedrail, Airblast, MGT, Bombardier, CRRC, Vivotech, Kirow, Harsco, SkyWay Technologies, INKA, LEN, WIKA, ADHI, MRT Jakarta, Barata Indonesia, dan Waskita.

Besarnya antusias peserta RailwayTech Indonesia 2018, Direktur PT Global Expo Management (GEM Indonesia) Baki Lee berharap, RailwayTech Indonesia  dapat berkontribusi dalam perkembangan transportasi di Indonesia khususnya LRT dan MRT.

Dedy Mulyadi