Indonetwork.co.id (Yogyakarta) – Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi yang subur akan tumbuh kembangkan UMKM memilih jalur online, sebagai pemasaran paling efektif di era serba digital saat ini.

Dari data analisa Dinas Koperasi dan UMKM DIY, hingga kini pelaku UMKM di provinsi Yogyakarta telah mencapai sekitar 174.000. Namun, mereka yang baru ‘tersentuh’ lewat edukasi pemasaran secara online sekitar 3000 UMKM.

Untuk itulah, peran media online berpotensi sangat besar dalam mengedukasi para pelaku usaha memperkenalkan wadah promosi secara online.

Baca juga: Hipemi Yogya: Pemasaran Digital Sangat Penting Untuk Jaring Konsumen

Menurut Kepala Bidang UMKM, Dinas Koperasi dan UMKM DIY Agus Mulyono, memang saat ini dominasi pelaku UMKM di Yogyakarta masih dalam skala mikro. “Mereka masih belum percaya diri dengan produknya padahal produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang luar biasa,” ungkapnya kepada indonetwork.co.id.

“Apalagi untuk mempromosikan sekaligus memasarkan produknya secara online. Butuh waktu untuk bisa mengalihkan cara pemasaran mereka ke pasar online,” terang Agus.

Lebih lanjut Agus memaparkan, ada tiga hal yang dilakukan Dinas Koperasi dan UMKM DIY dalam mendorong para UMKM menjadi lebih mandiri dan profesional. Pertama, bagaimana meningkatkan semangat juangnya. Kedua, berkolaborasi serta melakukan kerjasama dengan pihak yang strategis.

Baca juga: Roadshow E2E Commerce di Yogyakarta: Pelaku Usaha Haruslah Adaptasi

“Sekarang ini bukan zamannya bersaing dan saling menjatuhkan. Justru, bagaimana para pelaku usaha bisa berkolaborasi atau bekerjasama. Akan lebih baik jika, pelaku usaha dapat bergabung dan menciptakan kelompok usaha,” paparnya.

Dengan demikian kata Agus, mereka bisa menghasilkan produk maupun pemikiran, termasuk juga mensiasati bagaimana melakukan promosi yang efektif agar pemasarannya jadi lebih maksimal.

Baca juga: Roadshow E2E Commerce di Yogyakarta Ajak UKM Perluas Pemasaran

Dan terakhir, daya adaptasi. “Di zaman serba digital ini, mereka (pelaku UMKM) dituntut harus bisa menyesuaikan dengan kondisi tren pasar yang terjadi sekarang,” pungkasnya.

Agus mencontohkan seperti halnya segi pemasaran, jangan hanya mengandalkan penjualan fisik dengan sistem door to door. Bukan hanya membuang waktu, model pemasaran seperti itu sudah tidak lagi efektif.

“Karena itu, pelaku usaha di Yogyakarta harusnya bisa mencermati kondisi tren teknologi digital yang sedang marak di Indonesia. Jika tidak bisa beradaptasi, para pelaku UMKM yang masih mengandalkan pemasaran secara offline akan jauh tertinggal dengan mereka yang lebih dulu memasarkan produknya secara online,” imbuh Agus mengakhiri.

Ary Haryanto