Indonetwork.co.id (Jakarta) – Untuk mendongkrak e-commerce Indonesia bisa bersaing di pasar global, Pemerintah tentunya diharapkan bisa menaungi para pelaku usaha, mengerti kebutuhan, termasuk juga soal kemudahan pengembangan usaha.

“Agar bisa menjangkau lebih luas, kami berusaha menyediakan waktu untuk berbicara. Kami mendukung dan mewadahi para pelaku usaha yang ingin mengembangkan usahanya,” ungkap Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf).

Lebih lanjut Triawan mengatakan, pihaknya berkeinginan untuk mempermudah dalam segala hal, termasuk teknis yang dibutuhkan.

Baca juga:  Kadin Indonesia Lakukan Pendekatan Kerjasama Dengan Korea Selatan

“Jika ada pengusaha yang ingin membesarkan bisnisnya di luar Indonesia, kalau perlu ayo kita berbicara dengan Menteri Keuangan dan kebijakan Fiskal. Misalnya meminta keringanan pajak untuk jangka waktu tertentu,” tegasnya saat menjadi pembicara dalam gelaran seminar E-Commerce Bagi Bisnis Franchise, di ajang Franchise Licence Expo Indonesia di JCC.

“Kami berusaha mempercepat untuk mempermudahkan para pelaku usaha agar bisa meningkatkan usaha mereka. Apalagi pengusaha tersebut ingin melebarkan sayapnya di luar negeri,” papar Triawan.

Hal yang terkait dan menjadi perhatian khusus salah satunya adalah bagaimana meyakinkan para investor asing, terutama ketika para pelaku bisnis ingin go international.

Dalam gelaran seminar itu, salah satu audience bahkan mengatakan, sulitnya brand lokal yang bisa menembus pasar global. Beda dengan brand luar yang masuk ke Indonesia, mereka bisa dengan mudah masuk lebih cepat dan berkembang di tanah air.

“Dengan kondisi tersebut, Bekraf ingin merangkul pelaku bisnis itu untuk bisa menggandeng pihak Pemerintah, membicarakan hambatan apa yang jadi penghalang. Sehingga kedepan, mereka dapat dengan mudah menjangkau pasar  di luar Indonesia,” kupas Triawan.

“Kami yakin dengan mempermudah dalam segala hal, waralaba di Indonesia bisa bersaing di pasar global seperti sekarang ini. Untuk mendukung hal itu, implementasinya harus tepat sesuai kondisi pasar,” imbuhnya.

Usaha Kuliner, Ceruk Bisnis Menjanjikan
Menariknya, dari data Bekraf secara makro, sektor kuliner mampu membukukan nilai transaksi sebesar Rp209 triliun. Artinya, angka tersebut merupakan capaian yang mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku bisnis kuliner.

Ceruk bisnis ini menjanjikan dan potensial untuk terus berkembang. Kuliner menjadi sektor yang seksi dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Sektor ini juga telah membantu memberdayakan sumber tenaga kerja.

Melihat kondisi tersebut, salah satu asosiasi kuliner Indonesia menanggapi, perlunya dukungan penuh Pemerintah untuk membesarkan sektor bisnis kuliner.

Menurut perwakilan asosiasi itu, banyak hal yang perlu dibantu, terutama bagi pelaku bisnis yang ingin memulai menggeluti bisnis tersebut.

“Adanya wadah komunitas pengusaha kuliner pastinya akan membangkitkan mereka bahwa bisnisnya tidak dijalankan sendirian. Salah satunya melakukan pelatihan. Metode ini penting untuk meningkatkan standarisasi rasa dan penyajian,” ucap Tedy, perwakilan asosiasi pengusaha kuliner yang membawahi lebih dari 300 anggota pengusaha.

“Kami juga berusaha untuk bisa membantu pendapatan Pemerintah terutama pajak. Kami berharap tiga tahun kedepan, para pengusaha kuliner memastikan diri untuk tertib pajak,” ujarnya.

Menanggapi pernyataan itu Triawan menjelaskan, peran Pemerintah bersama komunitas dan Asosiasi berusaha mensiasati perkembangan teknologi. Misalnya saja, tantangan terhadap tren teknologi penggunaan robot di bisnis kuliner.

Menurut Triawan, hal yang perlu diperhatikan adalah konektivitas satu sama lain. Bisnis itu harus terkoneksi, tidak bisa berjalan sendiri, penerapan ini tentunya lebih efisien ketimbang jalan sendiri.

“Dengan begitu, kami membuka kesempatan bagi para praktisi kuliner untuk bisa jalan bersama Bekraf memajukan e-commerce terutama bagi bisnis franchise,” imbuhnya mengakhiri.

Dedy Mulyadi