Indonetwork.co.id (Jakarta) – Peluang ekspor minyak sawit Indonesia ke Pakistan semakin terbuka lebar. Pasalnya, Pakistan akhirnya menghentikan rekomendasi pelarangan produksi Vanaspati Ghee (VG) yang berasal dari minyak sawit.

Keputusan ini diambil pada pertemuan Oil Seeds & Their Allied Products Technical Committee ke-117 Pakistan Standards & Quality Control Authority (PSQCA) di Karachi, Pakistan.

Baca juga: Karya Utama Steel, One Stop Solution Kebutuhan Konstruksi

VG adalah minyak atau lemak makan dengan tekstur semi solid berupa suspensi yang terbuat dari minyak nabati yang telah mengalami proses penyulingan, pemutihan, deodorisasi, dan hidrogenasi. Bila bahan bakunya berasal dari minyak sawit, VG tidak melalui proses hidrogenasi, mempunyai titik leleh yang ideal pada suhu di atas suhu ruang, dan bercita rasa lemak hewan melalui penambahan penyedap.

“Indonesia menyambut baik berita positif ini, karena Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga kepentingan sawit sebagai salah satu produk andalan ekspor,” ungkap Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Iman Pambagyo.

Pada pertemuan tersebut, PSQCA memutuskan untuk mengurangi kadar asam lemak trans dari 10 persen menjadi 5 persen dan meningkatkan titik lebur menjadi 39°C pada produk VG.

Pengaplikasiannya sendiri akan dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan dari National Standard Committee of Agriculture & Food (NSCAF). Selain itu, PSQCA mengusulkan untuk menghilangkan lemak trans sesuai mandat organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2023.

Dengan keputusan ini berarti produksi VG tetap diizinkan. Namun, kadar lemak trans harus dikurangi secara bertahap hingga ke tingkat yang aman untuk dikonsumsi. Untuk itu, pengurangan kadar lemak trans dilakukan dengan mengadopsi standar keamanan makanan internasional.

Baca juga: Butuh Jasa Konsultasi dan Sertifikasi, GSC Solusinya

Rekomendasi pelarangan VG dilakukan sejak Oktober 2017 setelah Pemerintah negara bagian Punjab, Pakistan melalui Punjab Food Authority (PFA) mengeluarkan aturan bahwa minyak VG yang berasal dari minyak sawit yang diolah, dilarang dikonsumsi sebagai bahan makanan. Langkah ini diambil karena VG dianggap berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Namun, setelah melalui berbagai pertemuan, baik resmi maupun tidak dan pembahasan antara Pemerintah Pakistan dan pihak swasta di negara tersebut, rekomendasi pelarangan tersebut akhirnya dihentikan.

Di lain pihak, Pemerintah negara bagian Punjab juga mengakui kontribusi sawit bagi ekonomi Pakistan, termasuk dalam hal pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Di Pakistan, VG telah menyediakan sumber energi, vitamin, dan asam lemak esensial yang dibutuhkan, terutama untuk masyarakat pedesaan. Selain itu, VG merupakan produk yang telah dikonsumsi masyarakat Pakistan bertahun-tahun lamanya dan telah menciptakan lapangan kerja bagi pekerja terampil maupun tidak terampil, terutama di pedesaan Iman menambahkan, pada pertemuan ketiga Joint Committee Meeting for the Review of Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA) tahun 2017, delegasi Indonesia selalu mengangkat isu kelapa sawit agar tidak terjadi kebijakan yang merugikan bagi ekspor Indonesia.

Selain itu, Duta Besar RI di Pakistan juga selalu melakukan upaya pendekatan untuk meyakinkan keberterimaan minyak sawit yang dipakai untuk VG. “Keputusan ini adalah keberhasilan diplomasi dagang yang secara konsisten kita lakukan sejak isu ini mencuat pertama kali tahun 2017,” tegas Iman.

Total perdagangan Indonesia dan Pakistan pada 2018 mencapai USD 3,1 miliar dengan surplus sebesar USD 1,8 miliar bagi Indonesia. Ekspor Indonesia ke Pakistan tahun 2018 tercatat sebesar USD 2,5 miliar atau naik 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 2,4 miliar.

Komoditas ekspor Indonesia ke Pakistan adalah minyak kelapa sawit dan turunannya; batubara dan bahan bakar padat lain dari batubara; alat transportasi; gas bumi dan hidrokarbon gas lainnya; serta suku cadang dan aksesori traktor.

Sementara impor Indonesia dari Pakistan pada 2018 tercatat sebesar USD 241 juta, naik 166 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 641 juta. Komoditas impor Indonesia dari Pakistan yaitu produk baja setengah jadi atau baja bukan paduan; beras; gandum dan tepung meslin; buah jeruk baik yang segar maupun yang dikeringkan; serta kertas