Jakarta-Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.640 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (2/11) sore. Posisi tersebut melemah 0,1 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp14.625 per dolar AS

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.718 per dolar AS atau melemah dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.690 per dolar AS.

Sore ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,27 persen, dolar Singapura melemah 0,11 persen, peso Filipina melemah 0,13 persen, rupee India melemah 0,43 persen yuan China melemah 0,12 persen, ringgit Malaysia melemah 0,06 persen, dan bath Thailand melemah 0,04 persen.

Hanya, dolar Taiwan menguat 0,08 persen dan won Korea Selatan menguat 0,08 persen. Senada dengan Asia, mayoritas mata uang di negara maju juga melemah terhadap dolar AS.

Tercatat, poundsterling Inggris melemah 0,68 persen, dolar Kanada melemah 0,11 persen, dolar Australia melemah 0,38 persen, dan franc Swiss melemah 0,16 persen.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan mata uang garuda melemah lantaran pasar masih mewaspadai peningkatan kasus penularan virus corona di dunia. Selain itu, beberapa negara juga kembali memberlakukan lockdown.

“Kasus penularan covid-19 yang meningkat itu yang mendorong pemberlakuan lockdown di beberapa negara Eropa yang membuat sentimen negatif (untuk rupiah),” ucap Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Ditambah, sejumlah masyarakat kembali menggelar aksi unjuk rasa hari ini terkait penolakan Undang-Undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja. Ariston menyebut pasar juga mewaspadai aksi demo tersebut.

“Pasar mewaspadai demo UU Omnibus Law Cipta Kerja. Kalau (demo) aman, rupiah seharusnya bisa menguat lagi,” kata Ariston.

Namun, Ariston optimistis rupiah akan berbalik arah menguat pada perdagangan Selasa (3/11). Ia memprediksi rupiah pada esok hari hari bergerak dalam rentang support Rp14.600-Rp14.700 per dolar AS.