Jahe adalah salah satu jenis tanaman herbal yang sering di manfaatkan masyarakat untuk membuat minuman hangat dan bumbu masakan.

Tanaman yang termasuk dalam keluarga empon-empon ini terdiri dari beragam jenis dan salah satunya adalah jahe merah. Di tinjau dari sisi bisnis atau usaha, budidaya jahe merah jauh lebih menguntungkan, karena memiliki nilai jual tinggi.

Budidayanya pun mudah di lakukan sebab tanaman tersebut dapat tumbuh di daerah mana saja. Lahan tersebut umumnya berbentuk tegalan atau kebun. Kondisi area dan cuaca tidak terlalu berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangbiakannya.

Tapi tentu saja bagi Anda yang ingin menanam, harus mengetahui cara agar hasil panen lebih optimal.

Selain itu, juga dapat mengurangi resiko kerugian saat terjadi kesalahan dalam pemilihan bibit, serangan hama dan sebagainya.

1. Pemilihan lokasi atau lahan

Lahan terbaik adalah lahan yang berada pada kawasan dengan curah hujan sekitar 2.500 hingga 4.000 mm per tahun.

Sedangkan suhu udara terbaik adalah 20 sampai 35 derajat celcius atau tidak panas namun juga tidak terlalu dingin. Adapun kondisi tanah tidak saja harus subur tapi juga gembur sekaligus memiliki kandungan humus yang banyak.

Baca juga: Teknik dan tips mudah budidaya buah naga

Jahe adalah tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan sempurna jika kita tanam pada daerah gersang, berbatu dan daerah berkandungan air terlalu banyak.

Daerah pegunungan juga tidak bagus untuk menjadi lahan budidaya karena suhu udaranya terlalu dingin.

Harus Anda ketahui pula, jahe merah merupakan tanaman dengan kebutuhan terhadap penyinaran matahari dalam jumlah banyak di banding jenis tanaman lain. Apalagi ketika saat masa tanam telah memasuki usia 1,5 hingga 7 bulan, pasokan sinar matahari menjadi kebutuhan utama.

2. Memilih dan menyiapkan bibit

Pemilihan bibit merupakan sebuah tugas yang harus dapat di laksanakan secermat mungkin. Bibit tersebut harus berusia dewasa, paling sedikit berumur 10 bulan dan lebih baik lagi jika sudah lebih dari itu.

Bibit berkualitas sempurna selalu berukuran besar, berkulit cerah dan mulus.

Untuk ingin mendapat bibit dengan kualitas unggul, kunjungilah toko-toko pertanian yang sudah bersertifikat. Biasanya bibit yang di jual, berasal dari proses semai sulam dengan seleksi sangat ketat.

bibit jahe merah

Sumber: Tandapagar.com

Jadi bukan berasal dari bonggol tanaman yang umum di jual secara kiloan tanpa melewati seleksi terlebih dahulu.

Sebelum di tanam, bibit harus Anda jemur. Penjemuran tidak boleh terlalu lama agar tidak menjadi kering. Setelah itu, simpan pada ruangan bersuhu sedang.

Lama penyimpan sekitar 1 sampai 1,5 bulan. Harus kita perhatikan pula, bibit jahe tidak boleh terkena siraman air.

Bibit yang telah di simpan tadi kemudian di potong namun pemotongannya tidak boleh sembarangan. Setiap hasil potongan, paling tidak memiliki mata tunas sebanyak 3 sampai 5 mata.

Alat yang di pakai untuk memotong tidak boleh kotor apalagi berkarat. Bahkan jika perlu, alat tersebut di sterilkan dulu sebelum di pakai.

Alat potong yang kotor sering membawa sumber penyakit (akan membuat rimpang tidak bisa menumbuhkan tunas secara normal).

Setelah di potong, lalu jemur selama 1 hari, kemudian masukan ke dalam wadah berlubang lalu celup pada larutan fungisida dan zat pengatur sekitar 1 sampai 2 menit. Fungisida berfungsi sebagai pelindung bibit dari jamur serta bakteri bersifat merugikan (membuat rimpang bibit jadi busuk bahkan tidak mampu menghasilkan tunas).

Dari sini, keringkanlah lagi. dan jangan sampai ada yang basah (sekali lagi, bibit mudah busuk).

3. Penyemaian

Penyemaian di lakukan pada peti kayu dengan dasar yang di beri abu gosok atau sekam padi.

Selanjutnya letakkan bibit di atasnya, kemudian tambahkan abu gosok atau sekam kembali. Pekerjaan ini terus Anda lakukan, hingga beberapa kali secara berlapis.

budidaya jahe merah - penyemaian

Sumber: Sarungpreneur.com

Selama masa penyemaian, bibit tidak boleh berada di tempat dengan paparan sinar matahari secara langsung. Jadi ada pada posisi terlindung dan akan lebih baik lagi jika di beri alas dan tutup dari jerami atau alang-alang.

Setiap hari, jagalah kelembabannya sehingga bibit tidak mengering. Jika suhu udara atau cuaca terlalu panas, berilah lagi siraman air secukupnya agar kondisi tempat penyimpanan bibit tetap lembab.

Proses penyemaian dan pertumbuhan memerlukan waktu sekitar 2 sampai 4 minggu.

Saat telah tumbuh dan memiliki 3 hingga 5 daun dengan ukuran tinggi sekitar 10 sentimeter, segera pindahkan ke media tanam. Setiap 1 rimpang jahe merah dapat menghasilkan bibit sebanyak 2 sampai 4 batang, sesuai jumlah mata tunas yang ada.

4. Media tanam

A. Berupa lahan terbuka

Bibit jahe merah bisa di tanam secara langsung pada lahan.

Namun sebelum itu, lahan tersebut harus bersih dari tanaman pengganggu dan gulma. Tanah juga di gemburkan terlebih dahulu dan di tambahi campuran bokashi atau pupuk kompos.

lahan terbuka

Sumber: Posdayap3mstainpo.blogspot.co.id

Jika sudah bersih, bibit dapat kita tanam menggunakan jarak 50 x 50 cm atau 30 x 40 cm sesuai dengan jumlah yang ingin di tanam dan ketersediaan lahan.

Jika ingin mendapat hasil panen lebih banyak dan maksimal, sebaiknya memakai jarak tanam yang pertama.

B. dari karung bekas atau polybag

Ada cara lain yang lebih praktis, budidaya jahe merah dapat pula di lakukan dengan media tanam yang berada dalam karung bekas atau polybag.

Saat memilih karung bekas, pilihlah karung yang sebelumnya Anda pakai untuk menyimpan pakan ternak atau beras.

budidaya jahe merah - polybag

Sumber: Deherba.com

Ukuran polybag tersebut pun harus seragam, yakni 40 x 50 sentimeter.

Quote – Media tanah paling cocok untuk menanam adalah tanah dan pupuk organik yang di campur dengan pasir. Komposisi perbandingannya 2:1:1 atau 3:2:1.

Tanah wajib berasal dari jenis yang subur dan gembur. Maksudnya adalah tanah berkomposisi antara pasir, tanah liat beserta debu seimbang dan mempunyai kandungan unsur hara yang cukup.

Kemudian untuk pasir, harus memiliki kandungan fraksi liat tinggi. Pasir tersebut dapat berasal dari pasir ladu atau jenis lain yang ada berkandungan lumpur.

Baca juga: Begini caranya budidaya jamur tiram paling tepat

Pasir seperti itu biasanya memiliki endapan mineral, sehingga akan sangat baik sekali untuk menjadi media penanaman.

Pupuk organik dapat menggunakan kompos, pupuk kandang atau bokashi. Bokhasi merupakan pupuk yang berasal dari hasil fermentasi mikroorganisme.

Apabila lebih memilih pupuk kandang, pupuk tersebut harus terfermentasi lebih dahulu kemudian di hancurkan. Bertujuan agar kandungan nutrisi lebih mudah di serap oleh tanaman.

Jika sudah siap, semua jenis media tersebut kita campur jadi satu hingga merata dan di bersihkan dari kotoran atau benda lain yang mengganggu seperti batu, plastik dan lainnya.

Lalu campuran ini di masukan dalam polybag atau karung bekas sekitar 15 sampai 20 sentimeter.

Sisa ruang kosong dalam polybag tersebut nantinya akan di gunakan untuk menambah pasokan pupuk organik setelah memasuki masa pertumbuhan.

5. Teknik penanaman

Di butuhkan cara sedikit berbeda dalam proses penanaman baik yang di tanam langsung pada lahan maupun memakai polybag dan karung bekas.

A. Metode tanam pada polybag

Setelah bibit Anda keluarkan dari tempat persemaian, tanaman yang masih kecil tersebut memang bisa segera di masukan ke dalam media.

Namun tetap di perhatikan, posisi tunas harus dalam keadaan berdiri dengan mata berada pada posisi atas. Setelah itu, tutup dengan tanah dengan ketebalan sekitar 3 atau 5 sentimeter. Selanjutnya

tutup lagi menggunakan jerami kering dengan ketebalan serupa. Setiap 1 lubang penanaman, bisa di gunakan untuk memasukan 3 sampai 5 tunas.

B. Metode tanam pada lahan

Jika media tanam berada pada lahan terbuka, tunas tersebut tidak boleh kena paparan sinar matahari terlalu banyak. Oleh karena itu, harus di cermati pula soal perhitungan musimnya.

Sedangkan saat menggunakan karung bekas atau polybag, proses budidaya tersebut dapat di lakukan kapan saja. Yang terpenting adalah, tunas tersebut tetap mendapat perlindungan.

Jika terlalu sering kena paparan sinar matahari, daun justru malah menguning, layu kemudian tidak dapat tumbuh lagi.

6. Perawatan, pemeliharaan dan pemupukan

Meski tergolong sebagai tanaman yang mudah di pelihara, dalam tahapan ini ada beberapa hal yang tidak boleh di lewatkan begitu saja.

Penyiraman rutin di lakukan terutama pada musim kemarau dan saat tanaman baru menginjak usia antara 0 sampai 3 bulan. Selain penyiraman, gulma dan tanaman pengganggu lain juga harus selalu kita singkirkan minimal setiap 2 bulan sekali.

penyiraman

Sumber: mohiyosrosyid.wordpress.com

Gulma dapat menyedot sari makanan dari tanah yang seharusnya di serap oleh tanaman.

Penyiangan juga mempunyai tujuan lain, yaitu untuk menjaga kondisi tanah agar unsur hara-nya tetap stabil. Bahkan jika Anda rasa perlu, lakukan pemupukan dengan pupuk organik saat tanaman menginjak umur 2 bulan. Dosis yang di gunakan adalah seperlima media tanam.

Agar budidaya jahe merah dapat menghasilkan panen makin banyak, pemupukan lakukanlah hingga 3 kali sebelum memasuki masa panen.

cara budidaya jahe merah - pemupukan

Sumber: Jahemerahtuban.blogspot.co.id

Jenis pupuk yang kami rekomendasikan adalah pupuk kimia seperti TSP atau Z dan sebagainya.

Akan tetapi, di banding pupuk kimia tentu lebih di anjurkan untuk menggunakan pupuk organik berbentuk cairan. Harganya memang lebih mahal, namun mampu menjaga kesuburan dan meningkatkan produktifitas tanaman secara maksimal.

Khusus untuk jahe merah yang di tanam dalam karung atau polybag, dapat memakai pupuk bokashi bercampur tanah dengan perbandingan 1:3.

Pupuk itu di masukan ke dalam media ketika usia tanaman berusia sekitar 2 bulan atau saat rimpang jahe mulai muncul atau terlihat menyembul ke atas permukaan tanah. Kerjakan tugas tersebut hingga beberapa kali sampai memasuki usia tanam 8 bulan.

Mungkin terlihat sangat sederhana, namun nyatanya mendatangkan hasil panenan yang melimpah.

Polybag akan terisi dengan penuh oleh rimpang-rimpang. Bahkan panenan tersebut dapat menghasilkan hingga 20 kg rimpang untuk 1 karung polybag saja.

7. Pengendalian hama

Meski dapat Anda basmi dengan obat-obatan kimia, lebih baik menggunakan sistem organik atau alam untuk menanggulanginya, karena aman.

Pengendalian secara alami tersebut di kenal dengan istilah Pengendalian Hama Terpadu atau PHT.

Konsepnya adalah mengkombinasikan unsur manusia dan alam sekitar untuk mencegah terjadinya serangan hama terutama pada awal penanaman.

Dalam konsep ini, selain memilih bibit jahe merah berkualitas unggul, juga menerapkan sistem pertumbuhan yang sehat.

Jika terjadi serangan hama, harus menggunakan insektisida, fungisida dan hebisida alami dan bersifat ramah lingkungan. Selain itu, tidak boleh memunculkan dampak berupa residu toksik pada tumbuhan dan lahan atau media tanam.

Jenis pestisida alami antara lain adalah tembakau. Daun tanaman ini punya kandungan nikotin yang sangat tinggi, sehingga dapat kita manfaatkan untuk mengatasi serangan hama berbentuk serangga kecil bernama aphids.

Kemudian ada lagi piretrum, sejenis tanaman dengan bunga yang bisa di manfaatkan sebagai pembasmi nyamuk, lalat dan kutu.

Berikutnya adalah tuba yang mengandung retenone yang seringkali di pakai para petani sebagai insektisida kontak. Buah bengkoang yang memiliki kandungan rotenoid atau pakhirizida, dapat pula Amda manfaatkan sebagai larvasida dan insektisida.

Kemudian yang terakhir, adalah tanaman jeringau. Rimpang tanaman jeringau memiliki kandungan asaron, yang sangat handal untuk membasmi hama jahe merah berupa cendawan dan serangga.

Teknik penggunaan masing-masing insektisida alami tersebut semuanya hampir serupa, yaitu di buatkan cairan kemudian semprotkan pada tanaman yang terkena serangan hama.

8. Masa panen jahe merah

Saat panen akan tiba setelah menginjak usia tanam 10 hingga 12 bulan. Ciri utamanya adalah ketika batang dan daun yang sebelumnya berwarna hijau segar berubah menjadi kuning dan terlihat mengering.

Untuk yang di tanam pada media karung bekas atau polybag, cara pengambilan hasil panennya sangat mudah Anda lakukan. Kita tidak perlu melakukan penggalian, namun cukup merobek karung atau polybag tersebut kemudian ambil rimpang jahenya.

Sedangkan lahan terbuka sebagai media tanam, pencangkulan untuk mengambil rimpang jahe harus di lakukan secara hati-hati agar tidak ada rimpang yang terluka akibat kena cangkulan.

Jika ingin lebih praktis, cabutlah tanaman jahe dari dalam tanah secara kuat tapi perlahan-lahan agar tidak ada rimpang yang tertinggal.

Setelah di angkat, segera bersihkan dari segala macam kotoran. Tanah yang masih menempel pada rimpang harus ikut tersingkir kemudian cuci menggunakan air bersih.

Selanjutnya hasil panen bisa kita jual dalam bentuk utuh atau di keringkan lebih dulu.

Lebih daripada itu dapat pula di olah menjadi serbuk atau bubuk dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi.