Indonetwork.co.id (Jakarta) – Meski pertumbuhan e-commerce terus mengalami peningkatan yang positif. Namun, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) di industri sektor ini tidaklah seimbang.

“SDM sebagai penunjang industri e-commerce masih sangat kurang,” ujar Wakil Ketua Kadin bidang UMKM, Erik Hidayat.

Erik mengatakan, dunia e-commerce merupakan gelombang baru sehingga ilmu, hanya saja ahlinya masih sangat minim. Karena tuntutan, akhirnya banyak yang bisa karena terbiasa atau bisa setelah learning by doing.

Baca juga: Peluang Usaha Di Indonesia Yang Sangat Potensial 2017

Ketersediaan tenaga SDM ini membuat profesi-profesi tertentu menjadi sangat mahal. Hal tersebut diakui Erik menjadi tantangan pihaknya untuk menggali lebih banyak lagi SDM berkompeten.

“Meski sudah dicoba solusinya oleh berbagai instansi pendidikan, namun masih belum cukup cepat menjawab kebutuhan industri ini,” ucapnya.

Untuk berupaya meningkatkan SDM kompeten di bidang ini, pihaknya seakan tak mau berpangku tangan pada instansi pendidikan. Menurut Erik, di Kadin sendiri terdapat Badan Start Up milik Patrick Waluyo yang konsen membantu para startup, termasuk di bidang fintech dan e-commerce.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani menyampaikan agar Kadin membuat program Vokasi dalam berbagai bidang dan bekerjasama dengan pemerintah. Namun, program tersebut saat ini masih dalam tahap penggodokan.

“Betul kami memang kekurangan SDM untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan berbasis media online yang memang massive ini. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri buat kami,” kata Rosan.

Perlu diketahui bahwa, meski pertumbuhan media online signifikan, bukan berarti peningkatan tersebut dianggap berperan dalam penurunan transaksi perdagangan konvensional.

Pertumbuhan E-Commerce Bukan Persaingan
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Aulia E Marinto, mengungkapkan bahwa, kompetisi antara pelaku bisnis transaksi perdagangan secara elektronik (e-commerce) dan pedagang ritel konvensional tidak boleh dilihat sebagai persaingan.

“Kenyataan itu harus dilihat sebagai dua entitas yang sama-sama berperan untuk memajukan perekonomian bangsa,” ujar dia.

Lebih lanjut Aulia menjelaskan, pelaku e-commerce yang memanfaatkan teknologi untuk berbisnis juga merupakan pedagang ritel konvensional. Bedanya, mereka sudah selangkah lebih maju dengan menerapkan pemanfaatan teknologi dan satunya masih belum memanfaatkan teknologi untuk berdagang.

“Jadi, kami tidak boleh melihat fenomena ini sebagai persaingan karena banyak yang menerapkan cara bisnisnya bersistem online. Sebab, basic mereka pada umumnya juga adalah pedagang ritel konvensional,” tegasnya.

Hanya saja kata Aulia, mereka sudah selangkah lebih maju menggunakan teknologi. Ini juga seharusnya dapat dilihat sebagai celah untuk berkembang lebih besar lagi.

Dia menjelaskan, secara umum volume pasar e-commerce di Indonesia masih kecil. Bahkan, jumlahnya masih di bawah 2% dari total pasar ritel konvensional. Tetapi jika dilihat dari sisi pertumbuhannya, pasar e-commerce bertumbuh cukup signifikan.

Bahkan, kata Aulia Marinto, dari sisi transaksi pertumbuhan pasar berbasis media online juga terus mengalami peningkatan.

“Saat ini, kami masih mengumpulkan data-data dari berbagai perusahaan e-commerce untuk mengetahui seberapa besar pertumbuhannya di Indonesia. Meski secara volume tercatat masih di bawah 2% dari total ritel konvensional,” urainya.

“Jika dari sisi pertumbuhan memang meningkat, potensinya masih sangat besar. Makanya kami sekarang fokus membentuk ekosistemnya dulu,” papar Aulia.

Dedy Mulyadi
Sumber: kadin-indonesia.or.id