Indonetwork.co.id (Jakarta) – Menurut sudut pandang tertentu, Indonesia masih kekurangan pelaku usaha. Ketimbang memilih jadi pengusaha, masyarakat Indonesia justru cenderung lebih tertarik untuk menjadi pegawai (pekerja kantoran).

Ya, membangun kewirausahaan tidaklah semudah yang dibayangkan. Karena itu, untuk menumbuh kembangkan jiwa wirausaha diperlukan pelatihan berkelanjutan, membangun komunitas secara insentif dan reward bagi wirausaha. Membentuk pilot project salah satu cara menciptakan lingkungan untuk menumbuhkan geliat bisnisnya.

Baca juga: Ciptakan Bibit Pengusaha, Kadin Rancang Kawasan Berkonsep OPOV

Anggota Komisi XI DPR, Ahmad Najib Qodratullah mengatakan, Indonesia masih kekurangan pengusaha. Saat ini kata dia, dari 256 juta penduduk Indonesia, jumlah pengusaha di Tanah Air baru mencapai 1,6 persen dari populasi.

Padahal menurut Najib, sebuah bangsa sejahtera minimal harus memiliki 2 persen wirausaha dari total populasi. Saat ini, kata dia, sejumlah negara ASEAN memiliki pengusaha di atas dua persen.

“Ini artinya, Indonesia masih membutuhkan banyak pelaku usaha untuk bisa meningkatkan perekonomian masyarakatnya agar dapat hidup lebih mandiri,” kupasnya.

Hal serupa juga dipertegas Eddy Ganefo, Ketua Umum Kadin Indonesia. Menurutnya, jumlah pengusaha di Indonesia jauh tertinggal dibanding Negara Malaysia dan Singapura.

Eddy mengatakan, Malaysia telah memiliki 5 persen pengusaha dan Singapura mencapai 7 persen, Thailand 4,5 persen, dan Vietnam 3,3 persen pengusaha dari jumlah penduduknya.

Dengan banyaknya pengusaha yang ada, katanya, maka akan tercipta pula lapangan pekerjaan sehingga akan menyerap jumlah tenaga kerja.

Wirausaha Mampu Mengurangi Angka Pengangguran
“Semakin banyak pengusaha, akan mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan,” jelas pria yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Indonesia (APERSI) ini.

Untuk itu pula, dirinya sebagai Ketua KADIN menargetkan mencetak satu juta pengusaha.

“Ada banyak program yang bakal kami lakukan untuk melahirkan para pelaku usaha, salah satunya adalah KADIN goes to campus. Program tersebut merpakan salah satu upaya KADIN mencetak pengusaha,” tambahnya.

Kedepan, KADIN juga akan menggandeng beberapa stasiun televisi untuk menciptakan pengusaha dari desa binaan. Selain mencari pengusaha, pihaknya juga akan melakukan kerjasama guna memberikan modal usaha.

“Mengapa kami memilih segmen mahasiswa dalam program KADIN goes to campus. Karena di usia mereka, para mahasiswa sedang mencari jati diri. Sehingga bagus membentuk mindset menjadi pengusaha. Karena selama ini mindset yang tertanam selepas tamat kuliah hanyalah menjadi seorang pegawai bukan pengusaha,” kupasnya.

“Oleh sebab itu, kami ingin membentuk mereka menjadi pengusaha muda di usia yang relatif produktif. Indonesia harus mampu ciptakan bibit pengusaha,”  tandasnya.

Dedy Mulyadi