Indonetwork.co.id (New Delhi) – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita bersama Menteri Perdagangan dan Industri India Suresh Prabu membahas tarif CPO dan peluang kerja sama di bidang farmasi di New Delhi, India.

Kedua Menteri bertemu dalam forum pertemuan tingkat Menteri Perdagangan, yaitu Indonesia-India Biennial Trade Ministers’ Forum (BTMF) ke-2.

Dalam kesempatan tersebut, kedua negara sepakat membahas langkah-langkah peningkatan kerja sama di bidang perdagangan dan investasi.

Baca juga: Delegasi RI Perjuangkan Perluasan Akses Pasar ke Jepang

“Pertemuan kedua Menteri sangat strategis karena India dan Indonesia merupakan dua negara yang memiliki hubungan sejarah, ekonomi, dan sosial yang sangat dekat, dan memiliki komitmen untuk meningkatkan hubungan di segala bidang termasuk perdagangan dan investasi,” ujar Mendag Enggar, Senin, (25/9).

Fokus dari BTMF adalah membahas isu-isu perdagangan bilateral, menindaklanjuti hasil BTMF pertama, dan merumuskan hasil pertemuan kedua Kepala Negara pada Desember 2016 lalu.

Indonesia dan India melakukan BTMF terakhir 6 tahun lalu, yaitu pada 4 Oktober 2011 di Jakarta.

“Indonesia mengangkat isu peningkatan bea masuk CPO dari 7,5% menjadi 15% dan turunannya (olein) dari 15% menjadi 25%, sehingga menyebabkan penurunan daya saing produk andalan ekspor Indonesia ke India,” jelas Enggar.

“Kami juga mengangkat isu produk lain seperti pinang, kopi, karet, dan minyak atsiri yang juga dikenai tarif tinggi. Produk tersebut diperlukan untuk industri dalam negeri India,” paparnya.

Menurut Enggar, pihak India juga sudah menerima keluhan Indonesia, dan siap membahas hal ini lebih lanjut dalam pertemuan RCEP berikutnya.

Selain isu CPO, kedua Menteri juga membahas kerja sama di bidang farmasi. Dalam hal ini, Indonesia mengundang kembali India untuk berinvestasi di bahan baku obat atau Active Pharmaceutical Ingredients (API).

Investasi di Bidang Farmasi
Keduanya sepakat, isu pengembangan investasi di bidang farmasi akan dibahas lebih lanjut dalam melalui pertemuan teknis otoritas farmasi dan kesehatan kedua negara.

“Pertemuan diadakan dengan semangat kerja sama dan kekeluargaan. Kedua negara harus melihat secara positif dan mencari cara secara kreatif. Bukan bagaimana menurunkan impor, tapi lebih meningkatkan ekspor masing-masing negara sehingga terjadi perdagangan yang berkelanjutan,” kata Mendag Enggar.

Keduanya meminta pejabat tinggi negara meningkatkan intensitas pertemuan, baik formal maupun informal, untuk membahas isu-isu perdagangan dan investasi yang muncul antara kedua negara.

Salah satu hasil penting dari BTMF ke-2 adalah disepakatinya pembentukan Kelompok Kerja Perdagagangan dan Investasi (Working Group on Trade and Investment Forum/WGTIF) dan Kelompok Kerja Fasilitasi dan Resolusi Perdagangan (Working Group on Trade Facilitation and Resolution/WGTFR).

Kedua kelompok kerja bertujuan membahas isu-isu teknis agar pertemuan BTMF selanjutnya dapat membahas isu-isu baru yang relevan di masa depan. Sebagai contoh, sektor jasa dan kemajuan teknologi. Kedua kelompok kerja ini direncanakan untuk melakukan pertemuan pertama di awal tahun 2018.

Sebelum pertemuan tingkat Menteri, terlebih dahulu digelar Pertemuan Tingkat Pejabat Senior (Senior Officials Meeting).

Dalam pertemuan tersebut, Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo dan Delegasi India dipimpin oleh Joint Secretary, Department of Commerce and Industry, Ministry of Commerce and Industry of India Shri Rajneesh.

Dedy Mulyadi