Tahun lalu, Bank Dunia mencatat Singapura sebagai negara yang berada di peringkat terbaik dari setiap indeks bisnis, mulai dari tingkat kebahagiaan hidup hingga kemudahan berbisnis. Peringkat ini tidak pernah terlepas dari tangan Singapura selama 10 tahun belakangan.

Namun di tahun ini, negara kecil tersebut mengalami penurunan. Berdasarkan struktur peringkat Ease of Doing Business yang baru di terbitkan Bank Dunia, Selandia Baru berhasil mengambil alih posisi Singapura dan di daulat sebagai negara yang paling mengakomodir kebutuhan bisnis, baik bagi warga lokal maupun ekspatriat.

Posisi Singapura di tempat kedua di ikuti oleh Hong Kong di tempat ketiga, Tiongkok di tempat keempat dan Korea Selatan di tempat kelima. Indonesia sendiri mencatatkan kenaikan peringkat dari sebelumnya 106 menjadi 91.

Kendati demikian, angka ini masih jauh dari harapan Presiden Joko Widodo yang mengharapkan Indonesia untuk terus naik, minimal ke peringkat 40. Sebelumnya, Jokowi pernah mengatakan peringkat 40 besar adalah angka yang tidak bisa di tawar.

Indonesia kini sudah memasuki era persaingan bebas dan karenanya membutuhkan birokrasi yang lebih mengakomodir para pelaku usaha dari level mikro hingga besar.

Jokowi mengakui pemerintah masih punya pekerjaan besar, karena jika di bandingkan dengan negara ASEAN lainnya, peringkat Indonesia masih jauh tertinggal.

“Jauh sekali bila di bandingkan dengan Singapura atau Malaysia, jauh sekali,” ungkap Jokowi saat menutup pameran APKASI International trade and Investment Summit dalam acara The 12th Indonesia Investment Week 2016, Jakarta, Sabtu 7 Mei 2016.

Untuk melampaui target Presiden Jokowi, pemerintah sudah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) yang menargetkan oknum-oknum nakal di lingkungan lembaga birokrasi tingkat pusat hingga daerah.

Dengan membentuk satgas yang menerapkan fungsi intelijen, penindakan, pencegahan dan yustisi, keleluasaan warga dalam berwirausaha dan kepercayaan investor akan meningkat.

Peringkat Kemudahan Berbisnis Brunei Darussalam ikut menanjak

Sama seperti di Indonesia, Brunei Darussalam juga mengalami peningkatan drastis dari posisi 97 ke 72. “Brunei dan Indonesia adalah dua negara yang paling banyak melakukan perubahan,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Posisi Brunei tercatat melewati Vietnam yang juga ikut mengalami kenaikan. Tadinya Vietnam berada di posisi 91, lebih unggul dari Brunei. Namun, meski sudah mengalami kenaikan peringkat, peringkat Vietnam saat ini (82) kalah dari negeri kesultanan kaya minyak tersebut.

Kenaikan peringkat Indonesia melewati Filipina yang masih bertengger di posisi 99. Sementara Thailand yang biasanya menjadi negara termudah ketiga di regional ASEAN tidak mengalami perubahan peringkat sama sekali.

Meski begitu usaha Thailand untuk mempertahankan kemudahan birokrasi bisnisnya patut di acungi jempol karena saat ini masih di repotkan dengan urusan transisi menuju pemerintah demokratis yang baru. Padahal, negeri gajah putih tersebut sudah dua tahun berada di bawah pemerintahan junta militer dan hingga saat ini masih mencari jadwal untuk mengadakan pemilu.

Posisi paling buncit di Asia Pasifik di tempati oleh Timor Leste (175) dan Myanmar (170).

Malaysia sendiri tercatat mengalami penurunan, meski hanya satu peringkat. Skandal 1MDB yang menimpa Perdana Menteri Najib Razak dan beberapa pejabat tinggi di negeri jiran sedikit banyak berpengaruh pada penurunan peringkat ini.

Bank kreditor dana pembangunan asal Washington DC tersebut sebelumnya menggunakan 11 indikator seperti kemudahan mendirikan usaha, berurusan dengan izin mendirikan bangunan, akses listrik dan mengajukan kredit.

Namun mulai tahun ini, Bank Dunia mengaplikasikan faktor baru, yakni kesetaraan gender sebagai salah satu ukuran dalam menilai kemudahan usaha, pendaftaran properti dan mengesahkan kontrak.